Dua Veteran Pejuang Kemerdekaan Terima Bingkisan

posbali.id

Rai Taum Ceritakan Saat Bertugas Tandai Mata-Mata Belanda

 

A.A. Ngurah Girinatha

SETELAH usai melaksanakan apel Peringatan Hari Jadi ke-58 Provinsi Bali di Lapangan Kapten Mudita, Bangli, Minggu (14/8) kemarin, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Bangli mengunjungi dua orang Veteran Pejuang Kemerdekaan secara spontanitas. Mereka yang dikunjungi adalah  Ida Bagus Made Rai Taum (90) asal Lingkungan Geria Bukit Kelurahan Cempaga dan I Nengah Gangsir (95) di Banjar Pucangan Desa Kayubihi.

Dalam kunjungan tersebut Wakil Bupati (Wabup) Bangli Sang Nyoman Sedana Artha didampingi Kapolres Bangli AKBP Danang Benny Kusprihandono, Wakil Ketua DPRD Bangli Komang Carles, Dandim 1626 Bangli, Kajari Bangli, Ketua Pengadilan. Rombongan Forkompinda menyerahkan bingkisan kepada dua veteran tersebut.

Disela-sela kunjungan tersebut Wabup Sedana Arta menyampaikan, tidak akan lupa jasa-jasa pahlawan. Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Untuk itu sebagai generasi penerus merupakan kewajiban memberikan perhatian terhadap pejuang terdahulu.

“Karena tiga setengah abad bangsa Indonesia dijajah Belanda dan tiga setengah tahun dijajah oleh Jepang. Hingga puncak perjuangan terjadi pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan sebagai identitas bangsa yang berdaulat,” ucap Sedana Arta.

Salah seorang veteran penerima bingkisan, Ida Bagus Made Rai Taum, menuturkan sekelumit perjuangan mengikuti perjalanan Kapten AA Anom Mudita semasa perjuangan. Ia mengisahkan, saat itu dirinya ditugaskan untuk memasang plakat mengenai matamata Belanda yang dipasang pada malam hari. Dalam melaksanakan tugasnya diberikan kain kampuh (kain kecil) dipakai saat melaksanakan tugas memasang plakat tersebut.

Lebih lanjut dikatakan, dirinya hampir ketahuan saat memasang plakat tersebut. Sebab saat itu banyak serdadu Belanda yang lewat. Rai Taum meyakini, kain putih kecil yang diberikan oleh pimpinan sebagai jimat. “Hampir saya ketahuan saat memasang plakat, namun berkat jimat yang  diberikan AA Anom Mudita, saya selamat dari sergapan serdadu Belanda,” tuturnya.

Lanjut diceritakannya, sempat disuruh oleh pimpinan saat masih dalam pengungsian di Banjar Landih untuk pergi ke Puri Kilian yang jaraknya sekitar 15 km dengan berjalan kaki. Tugasnya saat itu adalah menyampaikan pesan kepada keluarga Anom Mudita agar mengosongkan tempat tinggal di Puri Kilia. “Mungkin beliau sudah mengetahui adanya serangan dari pihak Belanda. Dalam perjalanan dengan perasaan waswas karena banyak serdadu Belanda berkeliaran di jalan raya yang dilewati. Saya cemas, takut ditangkap dan pesan yang diberikan tidak sampai ke Puri Kilian,” ucapnya.

Kondisi kehidupan Ida Bagus Made Rai Taum saat ini sangat memprihatinkan. Kondisi fisik yang sudah uzur didampingi istri Ida Ayu Made Jelantik (80) yang kondisi penglihatan tidak normal (buta). Untuk kebutuhan seharihari mereka hanya mengandalkan uang pensiunan veteran yang diterima setiap bulan.Untungnya dua tahun lalu menerima bantuan  bedah rumah. Rai Taum tinggal bersama anaknya  Ida Bagus Nyoman Putra Taum (56) yang kondisinya hampir sama.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!