Dewan Tuding Survei KPA NTB Tendensius dan Prematur

posbali.id

Terkait 700 PSK Eks Dolly dan Kalijodo Beroperasi di NTB

 

MATARAM, POS BALI ONLINE – Pernyataan H Soehermanto selaku Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTB yang menyebutkan terdapat 700 orang Pekerja Seks Komersial (PSK) eks lokalisasi Kalijodo dan Dolly yang hijrah ke NTB, menuai kritikan Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB H.MNS. Kasdiono.

Menurutnya, pernyataan tersebut prematur serta tendesius. Sebab, jika hal tersebut merupakan hasil survei, maka harus disebutkan dengan detail parameter dan analisis perhitungannya. Mengingat lazimnya survei publik selama ini, sangat jelas indikator dan waktu pengamatannya.

“Yang utama, survei harus dibuka ke publik. Jika hanya pernyataan, itu saya anggap prematur dan dapat merusak citra Pulau Lombok yang kini telah membranding diri dengan visi wisata halal,” tegas Kasdiono menjawab POS BALI, Senin (15/8) kemarin.

Politisi Partai Demokrat itu menyayangkan, munculnya pernyataan dari salah satu lembaga negara di daerah, yakni KPA NTB tersebut di tengah mulai naiknya kunjungan wisatawan ke wilayah Bumi Gora akhir-akhir ini.

Padahal, semua pihak harus bertanggung jawab menjaga kondusifi tas dan iklim investasi di daerahnya masing-masing. “Pernyataan Ketua KPA itu saya nilai tendensius dan ada maksud terselubung didalamnya. Saya sudah minta Kasat Pol PP mengecek kebenaran informasi atas pernyataan Ketua KPA tersebut,” ujar Kasdiono.

Terpisah, Ketua Komisi Penanggulangan HAIV/AIDS Provinsi NTB H Soehermanto mengatakan, setelah Dolly ditutup, para PSK terpaksa berkelana ke tempat-tempat yang dinilai strategis seperti NTB. Begitu juga dengan penggusuran Kalijodo di Jakarta. “Kalau  mereka bersih semua mungkin tidak perlu dikhawatirkan, tapi masalahnya banyak dari mereka sudah terkena HIV/AIDS,” tegasnya menjawab wartawan, kemarin.

Lebih lanjut, dia menyebut bahwa jumlah PSK dari Dolly yang menjual diri di NTB mencapai 700 orang. “Itu hasil survei lapangan, tapi kalau yang sebelumnya beroperasi di Kalijodo kita kurang tahu berapa jumlah pastinya, yang jelas banyak sudah terdeteksi,” kata Sohermanto.

Pihaknya mengetahui hal itu karena KPA Kabupaten/Kota bersama instansi terkait terjun ke lokasilokasi yang rentan penyebaran HIV/ AIDS.  “Misalnya di sebuah kafe di Senggigi, kan didata tuh siapa-siapa saja disana. Lalu petugas sering temukan orang baru. Setelah ditanya barulah diketahui bahwa sebelumnya PSK itu beroperasi di Dolly atau Kalijodo,” ujar Herman. 031 

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!