Desa Adat Kuta bersiap gelar ritual “Nangluk Merana” dan “Pemelehpeh Sasih”

posbali.id
Kamis ini, sejumlah arus lalin mengalami penyesuaian

MANGUPURA, POS BALI – Arus lalulintas ke wilayah Kuta, Kamis (6/12) akan mengalami penyesuaian. Hal tersebut serangkaian dengan pelaksanaan upacara “Nangluk Merana” dan “Pemelehpeh Sasih” yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Pengaturan tersebut dilakukan untuk memperlancar prosesi upacara yang akan mengambil lokasi di seluruh perempatan dan pertigaan yang ada di Kuta.

 

Menurut penuturan Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista, Minggu (2/12) arus lalulintas dari dan ke Kuta akan diatur dengan sistem buka tutup. Namun khusus di Jalan Majapahit akan dilakukan penutupan secara permanen, karena kegiatan upacara berlangsung di tengah jalan. Terkait pengaturan arus lalin tersebut, pihaknya mengaku sudah melaksanakan pertemuan Jumat (30/11) malam melibatkan berbagai unsur keamanan.
Adapun unsur keamanan yang akan dilibatkan dalam pengaturan lalin nanti yaitu, dari unsur Pecalang, dishub, kepolisian, jagabaya, limas, satpam pasar seni, satgas pantai, serta satpol pp. “Sistim buka tutup arus lalin yang melintas ke di Catus Pata dan Pantai Kuta akan dilaksanakan mulai pukul 06.00 Wita. Sedangkan penutupan permanen di Majapahit akan berlangsung pukul 08.00 Wita. Arus lalin kita perkirakan akan kembali dibuka normal sekitar pukul 13.00 Wita,”terang Wasista.

 

Atas potensi ketidaknyamanan tersebut, pihaknya meminta pernakluman kepada pengendara dan para pengusaha. Sebab upacara tersebut adalah demi keseimbangan dan harmonisasi konsep ajaran Tri Hita Karana. Hal tersebut sekaligus menegaskan masyarakat Kuta tetap teguh dalam menjalankan dan mempertahankan adat, budaya, agama dan tradisi yang telah dilakoni secara turun temurun. Atas hal tersebut pihaknya juga mengaku sudah menyampaikan surat permakluman dan pemberitahuan dari sekitar tiga hari yang lalu. Dengan demikian diharapkan pihak hotel bisa melakukan pengaturan jadwal Check In dan Chek Out kepada tamu yang menginap di tempatnya. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat, agar bisa mendukung menyukseskan upacara tersebut dengan mencari jalan alternatif. “Bagi yang tidak terlalu berkepentingan agar mengatur ulang jadwalnya ke Kuta. Hal ini untuk mencegah terjadinya kemacetan. Kita juga imbau agar tamu yang hendak chek in dan chek out bisa menghindari Jalan  kartika plasa dengan lewat by pas Ngurah Rai saja,” sarannya.

 

Dipaparkannya, dalam pecaruan Nangluk Merana nantinya akan dilaksanakan di 13 titik, termasuk Catus Pata Desa Adat Kuta. Diantaranya di Jalan Majapahit ada tiga lokasi, perempatan Temacun, Perempatan depan SD 1 Kuta , Pura Desa, Unggan-Unggan, Catus Pata, Buni, Tegal, Pantai Kuta, Simpang Kediri dan depan Patung Baruna. Pecaruan di perempatan dan pertigaan ini melibatkan masing-masing banjar yang ada di sana. Diantaranya Banjar Pelasa, Banjar Temacun, Banjar Merta Jati, Banjar Buni, Pande Mas, Pengabetan, Tegal, Jaba Jero serta Banjar Segara. Selain itu juga ada 4 pelawatan barong, serta Pelawatan Sanghyang Jaran serta Barong Landung akan “tedun” dalam ritual ini.

 

Rangkaian upacara diakuinya akan diawali dengan kegiatan di Catus Pata atau Bemo Corner pada pukul 06.00. Selanjutnya dilakukan Upacara mecaru di segara dan mepakelem. Pada pukul 08. 00 Wita Ida Pelawatan masing-masing banjar tedun di beberapa perempatan. Diantara terbagi atas, pelawatan banjar pelasa tedun di dua lokasi di  majapahit yaitu gebog utara dan selatan. Barong bang pemamoran dan temacun di simpang temacun, depan pura deesa, Banjar Pande mas di catus pata dan belokan Hard Rock , Tegal Bakung sari di pertigaan Buni Sari dan dalam kahyangan simpang Pasar Seni. Sedangkan untuk Pekawatan Puri Satria dalem Kaleran di persimpangan pasar sengol dan perempatan SD 1 Kuta.
Setelah usai dilakukan Pecaruan, Ratu Pelawatan menuju Pura penataran kahyangan Kuta. Tujuan upacara tersebut sebagai bentuk bakti dalam konteks pengharmonisan Buana Agung dan Alit. Dengan harapan melalui.upacara ini nantinya kehidupan masyarakat Kuta berjalan secara harmonis, terhindar dari bahaya. Termasuk terhidar dari kegiatan bersifat kriminal. “Kita harap nantinya para pengusaha yang ada di palemahan Desa Adat Kuta yang memiliki tempat suci di hotel dan pengusaha lainnya, untuk bisa ikut menghaturkan Pangubakti sekalian Nunas tirta luhur, caru, ulam Sawur dan beras tawur yang sudah disiapkan untuk dihaturkan di parahyangan usaha masing masing,”harapnya.

 

Untuk diketahui, upacara Nangluk Mrana Desa Adat Kuta sering menjadi hal yang ditunggu wisatawan untuk disaksikan. Pasalnya selain mengandung tradisi, adat, seni dan budaya. Dalam setiap upacaranya senantiasa dibarengi dengan ritual kerauhan. Dimana para sada secara spontan menghunus keris yang disediakan dan menghujam kerisnya ke bagian tubuhnya. Menariknya kendati dihujam dengan sekuat tenaga, tidak ada satupun sada yang mengalami luka atas ritual tersebut. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!