Dalam Hindu Toleransi adalah Keyakinan

posbali.id

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

SUDAH 71 tahun Indonesia merdeka, masalah toleransi masih menjadi momok dalam negeri yang majemuk ini. Masih ada diskriminasi dalam berbagai masalah yang dikaitkan dengan agama. Bahkan masih ada kekerasan dengan dalih menegakkan ajaran agama, sesuatu yang sangat janggal karena agama menekankan pada kedamaian. Gesekan antar agama sering terjadi, baik yang menimbulkan korban karena disertai dengan kekerasan, maupun hanya sekedar ketegangan.

Dalam ajaran Hindu, masalah toleransi bukan sekadar ajaran untuk berbuat baik, tetapi toleransi sudah merupakan keyakinan dasar dalam agama. Bahkan Hindu saking percayanya dengan toleransi, membiarkan pengikutnya untuk pindah agama, suatu hal yang mungkin tak bisa diterima di agama lain. Tak ada istilah “murtad” dalam Hindu jika seseorang beralih keyakinan asalkan dilakukan dengan baik-baik, meski atas dasar keyakinan pula bahwa mereka yang meninggalkan Hindu itu pasti akan kembali lagi ke pelukan Hindu.

Dalam sejarah agama-agama di India tercatat Raja Ashoka yang memerintah tahun 260 sampai 232 Sebelum Masehi mengganti agamanya dari Hindu ke Buddha. Beliau bahkan kemudian menyebarkan agama Buddha itu ke seluruh India. Tak tercatat ada gesekan yang tajam, apalagi yang menjurus pada kekerasan. Toh pada akhirnya kemudian Hindu tetap berkembang di benua India. Semuanya berpangkal pada ajaran toleransi yang sudah menjadi “harga mati” bagi pemeluk Hindu.

Swami Vivekananda, cendekiawan Hindu yang sangat berpengaruh di masa lalu, pernah berkata: “Saya bangga menjadi pemeluk satu agama yang mengajarkan kepada dunia toleransi dan penerimaan universal. Kita percaya tidak hanya pada toleransi universal, tapi kita menerima bahwa semua agama sebagai benar. Seperti sungai yang berbeda yang memperoleh mata air mereka di sumber yang berbeda, semuanya menjadi satu di samudera, demikianlah jalan yang berbeda yang dijalani oleh tiap orang dengan kecenderungan yang berbeda, sekalipun beragam tampaknya, bengkok atau lurus, semua menuju Tuhan.” (Kutipan ini diambil dari buku “Apakah Saya Orang Hindu” karya Ed. Viswanathan terjemahkan NP Putra).

Karena toleransi bagi umat Hindu adalah keyakinan, bukan saja beralih agama yang dihormati, belajar agama yang bukan Hindu saja diperbolehkan. Penganut Hindu tak dilarang, misalnya, membuka-buka kitab suci agama lain. Mungkin pemeluk agama lain tak sejauh itu toleransinya, barangkali pula mereka menyebutnya haram atau malah menyebutnya berhala jika memegang kitabkitab suci umat Hindu. Tetapi bagi pemeluk Hindu mengetahui dan mempelajari agama lain bahkan disebut baik. Tentu sepanjang dasar keyakinannya pada Hindu sudah kuat sehingga yang terjadi adalah ungkapan yang sering disebutkan para cendekiawan Hindu, “apa yang ada dalam ajaran agama lain, ada di dalam ajaran Hindu, tetapi apa yang ada di dalam ajaran Hindu belum tentu ada di agama lain”. Dalam bahasa sederhana disimpulkan bahwa ajaran Hindu begitu lengkap untuk kehidupan sepanjang zaman.

Dalam Kitab Yajur Weda ada sloka XXX.14 yang seringkali dikutip orang, bunyinya: A no bhaadrah kratavo yantu visvato, adabfhaso aparitasa udbhidah, deva no yatha sadamid vrdhe asan. aprayuvo raksitaro dive dive. Terjemahannya: “Semoga pikiran yang mulia, yang tidak berbahaya, gagasan yang menguntungkan, datang kepada kami dari segala arah. Para dewata yang senantiasa waspada senantiasa memberi berkah setiap hari dan bermanfaat bagi kemajuan kami.”

Ini berarti agama Hindu tidak saja mengijinkan, tapi sesungguhnya mendorong kita untuk mencari kebenaran dari segala sumber. Hal ini sejalan dengan salah satu dari Purana Hindu, Srimad Bhagawatam, yang mengatakan, “Seperti lebah madu mengumpulkan tetesan madu dari bunga-bunga yang berbeda, orang bijaksana menerima saripati dari kitab suci yang berbeda dan melihat hanya hal-hal yang baik dalam semua agama.”

Erat kaitannya dengan toleransi adalah ajaran Hindu yang disebut tat twam asi. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya adalah “itu adalah kau” yang kemudian lebih disederhanakan menjadi “aku adalah kau” atau “dia adalah kamu”. Perlakukan orang lain sebagaimana orang lain ingin memperlakukan dirimu. Tat Twam Asi adalah fi lsafat Hindu yang mengajarkan kesusilaan yang pada dasarnya semua mahluk adalah sama-sama diciptakan Hyang Widhi. Karena itu jangan sesekali menyakiti makhluk hdup. Itulah jiwa toleransi. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!