Cok Ace Ultimatum Hotel dan Vila yang belum mengimplementasikan Aksara Bali

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengultimatum hotel yang belum mengimplementasikan Pergub No 80 Tahun 2018, terkait penerapan aksara Bali pada plang nama hotel terkait. Pasalnya implementasi Pergub tersebut wajib diterapkan, jika pihak hotel berkomitmen mengajegkan budaya bali. “Jadi tidak ada alasan lagi. Ini warning keras, apalagi sudah masuk bulan bahasa. Jadi kami akan intens ke bawah untuk pembinaan,”ujar Wagub yang akrab disapa Cok Ace, Sabtu (2/2).

 

Selaku ketua PHRI Bali, pihaknya mengaku sudah mengimbau rekan-rekannya di PHRI, jangan sampai nanti mereka terjaring sidak karena hal tersebut. Sebab implementasi aksara Bali tersebut tidaklah harus kaku, dalam artian harus mengikuti juklak yang dihimbau. Utamanya mengikuti warna merah putih dalam plang nama hotel. Hal tersebut disadarinya, karena pihak hotel memiliki branding collour masing-masing. “Memang warna brand hotel ada yang sudah melekat, tapi aksara Bali itu hanya nama hotelnya. Itu sudah kita kasih penjelasan, tidak usah merubah warnanya. Biarkan sesuai dengan collour brandingnya selama ini. Cuma tambahkan aksara Bali diatasnya, itu saja,”tegasnya.

 

Diakuinya, saran tersebut sudah disampaikan pihaknya saat mengikuti Muscab PHRI Badung, saat itu hadir sekitar 400 pengusaha hotel dan vila. Bahkan jika pihak terkait masih terbentur masalah tekhnis (tukang tulis aksara Bali), pihaknya siap membuka diri untuk memberikan saran. Pihaknya berharap di tahun 2019 sudah 70-80 persen hotel dan vila menerapkan hal tersebut. “Saya minta mereka me wa saya, dalam 5 menit saya akan balas wa mereka,”sentilnya.

 

Tidak dipungkirinya, pergub tersebut memang sifatnya tidak ada sanksinya. Namun bukan berarti itu tidak diterapkan, untuk itu pihaknya akan terus melakukan pembinaan. Bahkan saat ini kondisinya diakuinya terus berjalan setiap hari dan semakin bertambah. Apalagi kendala yang dihadapi pihak hotel dan vila sudah dicarikan solusinya, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mengimplementasikan hal itu. “Memang untuk tulisan aksara Bali ini memang masih minim di hotel, karena mereka terkendala masalah tekhnis pemasangan. Baik itu karena ketinggian, bahan batu marmer, atau kesulitan memahat. Tapi kita sudah solusikan itu, entah dengan ditempel atau lain sebagainya. Tapi untuk penerapan busana Bali itu sudah hampir 80 persen,”imbuhnya.

 

Dari pantauan di sejumlah hotel di kawasan pariwisata Kuta dan Kutsel, Minggu (3/2). Masih banyak hotel yang belum mengadopsi aksara Bali sesuai dengan Pergub No 80 Tahun 2018. Bahkan hotel yang mengaplikasikan aksara Bali tersebut bisa dihitung dengan jari tangan. Mereka menerapkan aksara tersebut menyesuaikan kondisi di lapangan, seperti hanya bertuliskan aksara diatas hotel yang menyala pada saat malam hari. Hal tersebut tidak dipungkiri membuat daya tarik baru bagi hotel, karena aksara itu menjadi ornamen pemanis bangunan. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!