Cerita Bersambung (158)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

PEDAGANG asong yang selalu memasang headset kecil di telinga kirinya dengan mencolokkan sambungan kabelnya ke perangkat walkman di pingganggnya itu, terlonjak dan meloncat-loncat kecil.  “Neh, bener kan dia artis? Makanya sedari tadi kupikir-pikir, di mana aku pernah melihatnya? He, ya vokalisnya Roger Band, aku baru ingat. Ya, betul itu! Eh, jadi kamu berteman pula dengan si penyanyi top itu?” katanya dengan suara cempreng.

“Ya, ya, ya, itu temanku, memangnya kenapa? Apakah salah kalau aku punya teman penyanyi top?” balasku sambil mengancamnya dengan pukulan ke berikut.

Dia mengelak dan tertawa terkekeh dengan gayanya yang kekanak-kanakan, ”Tidak salah, tapi kamu beruntung punya teman yang penyanyi top sekaligus cantik aduhai! Boneka cantiiik dari India, bolek diliriiik, tak boleh dipegaaaang…!!” Sambil terus mengelak dari ancaman pukulanku, ia pun bersenandung dan berlari menyeberang jalan seolah meledekku, untuk selanjutnya kembali menjajakan dagangannya di sela-sela penonton yang memenuhi area teras bioskop.  Dasar!

Bulan serupa sabit di langit mulai muncul malu-malu di sela mendung yang perlahan menepi. Hujan sekejap tadi yang mungkin telah meresahkan puluhan calon penonton bioskop di seberang rumahku kini menyisakan basah tanah yang cukup menyejukkan. Di salah satu genangan kecil air di sisi kakiku berpijak, aku seperti menemukan kembali bayang-bayang Bulan yang tersenyum dengan geraian tumpukan tipis rambutnya yang sering menutupi sebagian sisi wajahnya. Bulan di langit dan Bulan di genangan air, sama-sama memiliki makna yang dalam di dasar hatiku.

Kedatangan Bulan sore itu sungguh membawa makna yang sulit kurumuskan di benakku. Kedatangan Bulan yang sangat tak kuduga-duga itu telah menyisakan kegelisahan panjangku di tempat tidur kamar kosku hingga menjelang dini hari tiba. Terlalu banyak kelebatan bayangan Bulan dengan aneka gerak-geriknya yang menggemaskan berseliweran di pelupuk mataku ketika berkali-kali kucoba memejamkan mata agar aku segera tertidur. Di situ pula kulihat Gung Raka selalu ada membayang-bayangi.

Aku pun seperti terseret kembali pada kenangan di SMA ketika aku pertama kali berbicara langsung dengan Bulan yang sesungguhnya sudah merampok habis hatiku itu. Bersama Gung Raka, siswi kelas IPA1 dari Ubud itu tiba-tiba datang mencariku dan minta waktuku sejenak untuk diajak bicara. Demi Tuhan, aku menjadi salah tingkah tak karuan dan aku yakin kala itu Gung Raka geli melihat tingkahku. Kami bertemu enam mata di bangku beton, di bawah pohon ancak, di pojok halaman sekolah.

Jika kini kubayangkan lagi, benar-benar itu pertemuan yang sangat menggelikan, kaku dan lucu. Pasalnya, seumur-umur baru kali itu aku serius berhadapan dan berbicara dengan seorang perempuan yang baru kukenal. Setelahnya, Gung Raka sempat-sempatnya meledekku dengan mengatakan gaya bicaraku tak ubahnya seperti hakim yang sedang mencecar pertanyaan kepada terdakwa di kantor pengadilan, atau mirip polisi yang menginterogasi maling yang baru ketangkap. Memang, meskipun ada kuselipkan sekadar humor, tapi Gung Raka menuduhku nyaris tak bisa melepaskan kekakuanku dalam berkomunikasi.

Dari pertemuan itulah awalnya kutahu bahwa Bulan memiliki hobi membaca novel yang aktif. Aku tak bisa lupa momentum Bulan tersenyum waktu itu seraya kedua tangannya mengayun-ayunkan sebuah buku novel di atas pangkuannya – novel Karmila karya Marga T.  “Sejak kecil saya memang hobi baca,” jawab Bulan dengan sedikit tersipu waktu itu, yang kemudian menjadi pemicu pembicaraan merambah ke mana-mana. Dari soal hobi baca, hobi musik, sampai kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah.

Dan, pertemuan di bawah pohon ancak itu lantas menjadi tonggak penanda aku mulai terombang-ambing pada kegilaan yang sunyi dan aneh pada Bulan. Kegilaan yang kemudian banyak mengaduk-aduk proses kreatifku dalam menulis karya-karya sastra. Di luar dugaanku, Gung Raka rupanya mengkritisi perilakuku.  Dia menanyakan mengapa judul tulisan-tulisanku termasuk lagu yang kami bawakan di TVRI Denpasar itu selalu ada kata “Bulan”-nya.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!