Cerita Bersambung (146)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

DARI banyak hal-hal baru yang membuatku terperangah, yang kudapati sejak aku tinggal secara resmi di rumah Guru Tantra di kawasan Jalan Kartini, Banjar Wangaya Kelod, itu adalah keberadaan sebuah bioskop yang berdiri megah di seberang jalan sekitar rumah. Sebuah tempat yang khusus memutar film itu benar-benar menjadi sesuatu yang menakjubkan di benakku, suatu tempat yang tak pernah kubayangkan akan bisa setiap hari ada di hadapanku karena ini tidak tercatat dalam sepanjang riwayat keseharianku ketika aku hidup di lereng Gunung Rinjani.

Namun kegembiraan serta ketakjubanku akan bioskop itu seperti lenyap begitu saja atau tidak ada artinya sama sekali ketika kemudian perjalanan hidup menjadi berbelok liar seakan-akan seenak perutnya. Begitu aku menginjak sekolah dasar belum sebulan, seolah tanpa sebab dan sulit kuterima secara logika apa pun, Guru Tantra meninggal dunia. Kakek angkatku itu pergi dengan tenang dan sangat segar dalam ingatanku ia menghembuskan nafas terakhirnya dalam posisi bak berbaring dengan tenang dan damai.

Batinku terpukul berat, ingin rasanya aku kembali saja menggelandang serta membatalkan sekolahku dan keinginan ini kusampaikan terus terang kepada Pak Tedi. Namun Pak Tedi, termasuk semua anak-anak Guru Tantra, mencegahku dengan keras. “Kita semua merasa sangat kehilangan dan terpukul atas kenyataan ini, namun kita tidak boleh putus asa seperti itu. Coba kamu pikir, kami semua kini telah kehilangan kedua orangtua yang sangat kami cintai. Baru saja kami kehilangan ibu, kini ayah menyusul dalam waktu yang sangat cepat. Kami semua kini harus mencoba tabah dan tegar. Kamu telah menjadi bagian dari keluarga kami, jangan berputus asa seperti itu. Tetaplah bersama kami. Aku dan saudara-saudaraku akan menanggung hidupmu semampu kami,” papar Pak Tedi.

Nasihat atau cetusan hati tulus Pak Tedi itulah yang akhirnya menguatkan batinku. Akan tetapi, dalam menghadapi keseharianku kemudian, bayangan dan kenangan tentang Guru Tantra tetap saja tak akan bisa kulepaskan begitu saja. Kenangan ketika kami bertemu pertama kali di terminal Kota Mataram itu acapkali menyita waktuku untuk melamun berlama-lama untuk akhirnya memaksa airmataku mengalir deras. Bagaimana ketika itu ia sempat menanyakan namaku, misalnya, suatu hal yang amat menyisakan kesan mendalam bagiku.

“Siapa namamu, nak?” tanyanya.

“Kakek memberiku nama Gede Salya Sungsang,” jawabku apa adanya.

“Oh, nama yang unik!” komentarnya sedikit terkaget. “Kakekmu tentu tidak sembarangan memberikan nama seperti itu. Apakah kakekmu pernah menjelaskan perihal makna nama itu?”

Aku tentu saja menggeleng dan Guru Tantra tertawa di kulum. “Yang kutahu Salya itu adalah nama salah satu tokoh cerita pewayangan. Dia adalah saudara dari Dewi Madri, istri kedua dari Raja Pandu yang berputrakan si kembar Nakula dan Sahadewa. Sungsang itu artinya kondisi terbalik. Jadi, Salya Sungsang itu artinya Salya yang terbalik. Maksudnya apa ya, kakekmu? Nanti coba aku akan telaah, namamu betul-betul unik, hahaha…,” katanya seraya tertawa kecil dan aku hanya tersenyum. Kenangan yang sangat sulit sirna dari kepalaku.

Aku selanjutnya harus belajar lagi berhati tegar untuk kesekian kalinya setelah hal yang sama telah menderaku bertubi-tubi sejak aku dilahirkan ibuku, sejak aku mulai melihat dunia ini. Aku tetap melanjutkan sekolahku atas biaya Pak Tedi, paman angkatku yang kemudian kujadikan bapak angkatku itu.

Sejak bujang memang ia pekerja yang ulet. Sebagai pemandu wisata freelance, pria yang kemudian secara tidak sadar memperkenalkan aku tentang segala hal termasuk pengetahuanku soal musik rock itu sungguh-sungguh menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Hingga akhirnya dia menikah, perlakuannya padaku tidak pernah berubah bahkan istrinya pun menyayangiku.

Jadi, kenyataan hidupku yang terkesan lebih banyak tak masuk akal ini tak pernah kuceritakan tuntas pada Gung Raka. Kalau saja dulu aku bercerita apa adanya dan kupaksa ia harus mempercayaiku, mungkin juga sahabatku itu akan percaya dan tidak lagi membuat dirinya nyaris frustrasi karena menganggap hidupku penuh rahasia, mengada-ada, bahkan sinting.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

4 tanggapan untuk “Cerita Bersambung (146)

  • 21/11/2018 pada 11:29 PM
    Permalink

    Charlie Austin, a £4million January signing from QPR, saw his promising start to life at St Mary’s curtailed by a hamstring injury picked up in last week’s 2-0 defeat against local rivals Bournemouth. Southampton striker Charlie Austin set to return from hamstring injury at Leicester 

    Balas
  • 12/02/2019 pada 9:55 AM
    Permalink

    I used to be very happy to search out this net-site.I wished to thanks for your time for this glorious read!! I definitely enjoying every little bit of it and I have you bookmarked to check out new stuff you weblog post.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!