Cerita Bersambung (118)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

AKU tercenung. Kata-kata Sal tersebut bagaikan seember besar air yang secara seketika ditumpahkan di kepalaku. Bibirku mendadak seperti terjarit dan mulutku seperti terganjal bola tenis. Aku tak mampu lagi bicara. Rasa haru dan bangga bercampur di benakku. Sementara itu, segempok uang dalam amplop kurasakan masih melesak hangat di kantong belakang celana blue jeans-ku.

Memang sudah menjadi keniscayaan rupanya, kesibukan yang padat akhirnya menjadikan kami benar-benar lupa pada hitungan hari. Pelaksanaan ujian akhir kini sudah di depan mata, jelang dua minggu lagi. Khusus untuk ini, Sal sendiri ternyata sudah menyampaikan kepada pamannya untuk mengistirahatkan sementara pekerjaan pembuatan spanduk dan papan nama. Artinya, usaha tersebut agar divakumkan sementara selama berkisar dua mingguan, selama kami menghadapi ujian akhir. Pak Tedi tentu saja setuju dan justru sudah jauh-jauh hari menolak orderan.

Pada rentang menjelang minggu tenang, sebagian besar kelompok belajar menggenjot jadwal pertemuannya. Termasuk kelompokku dan kelompok Sal, bahkan menambah jam pertemuan, dari yang semula tiga jam menjadi empat jam lebih. Dalam jadwal yang kian sesak, ternyata ada yang spesial di kelompokku, yakni selama dua kali berturut Bulan mengundang kelompokku untuk mengambil tempat pertemuan di rumahnya di Ubud. Secara teknis, karena kami tidak mungkin berangkat sendiri-sendiri, semua anggota kelompok diminta kumpul di sekolah, lalu Bulan menjemput kami dengan minibus travel miliknya untuk diboyong ke Ubud.

Aku dan semua anggota kelompok belajarku tentu saja senang bukan kepalang. Belajar di rumah Bulan, bagi kami, seperti belajar di vila atau bungalow mewah. Belum lagi dengan pelayanannya yang serba wah, di awal dan di akhir pertemuan kami diservis dengan hidangan makanan dan minuman yang serba enak.

“Setiap hari belajar seperti ini juga aku mau,” bisik Guat. “Semua juga nggak nolak,” sambung Nuriasih, salah satu anggota kelompokku yang paling cerewet yang juga teman sekelas Bulan. “Kalau kalian semua mau, terus-terusan belajar di sini juga boleh,” canda Bulan yang ternyata mendengar obrolan kami. “Oh, maaf Cok Iiiissss….!” kata kami nyaris kompak. Semua jadi tertawa.

“Setelah belajar di sini, nanti teman-teman boleh juga pakai rumah kami yang di Renon. Biar nggak terlalu kejauhan datang ke sini,” kata Bulan setelah kami menikmati hidangan kudapan dan kini mulai mendiskusikan pelajaran dengan duduk lesehan di ruang berlantai marmer yang luas.

Sebelum kami semua terlanjur terkejut dan mungkin bertanya lebih jauh, Bulan menjelaskan bahwa keluarganya juga punya rumah mewah di kawasan elit sekitar komplek Niti Mandala atau Lapangan Puputan Margarana, Renon. Rumah berlantai tiga yang dikontrakkan kepada pejabat tinggi yang juga penguasaha dari Dubai selama sepuluh tahun itu kini konon masa kontraknya telah habis.  “Kalau saja rumah itu tidak dikontrakkan ajik, mungkin selama ini saya sudah tinggal di sana, dekat dengan sekolah, tidak mesti ngajag jauh-jauh dari Ubud. Nah, sekarang rumah itu sudah kembali kosong, jadi teman-teman nanti seterusnya bias belajar di sana saja,” jelas Bulan.

Hati kami semua pun berbunga-bunga. Terlepas dari itu, dengan diundangnya kami ke rumah – lebih tepatnya puri – Bulan di Ubud ini, gambaran di benakku tentang Bulan pun menjadi kian melebar. Baru kali ini pula aku tahu jelas bahwa Bulan adalah anak blasteran semata wayang, putri tunggal pasangan Cokorda Ngurah Bagus Gangga dengan Nicole Christy, bule asal Australia.

Sesekali kedua orangtua Bulan itu memantau kami belajar dan selalu mengatensi setiap keperluan kami, terutama terkait hidangan ringan hingga berat yang seperti tak habis-habis datang mengalir ke hadapan kami. “Ini enaknya punya teman Bulan,” celetuk Guat ke telingaku. “Husss, dasar rakus kamu,” semprotku.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

3 tanggapan untuk “Cerita Bersambung (118)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!