Cerita Bersambung (116)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

PAK Tedi tertawa spontan. Sal memukul lembut lenganku. “Oh ya, bener juga itu! Nanti Bapak sendiri jadi direkturnya, ya?” kata Pak Tedi. Kami pun tertawa. “Oh pasti itu paman, kan paman sendiri yang menggagas dan mencarikan order untuk usaha kecil ini,” ujar Sal di tengah tawanya.

Sekali lagi, aku kian menikmati art work atau pekerjaan yang sangat berhubungan dengan seni dan kreativitas ini. Sal makin banyak saja menularkan kemampuannya padaku. Kian banyaknya orderan tidak jadi masalah bagi kami karena semuanya bisa kami atasi, selesai dengan baik tepat pada waktunya. Begadang nyaris setiap hari, di tengah ketatnya jadwal sekolah dan belajar berkelompok, syukur-syukurlah tidak membuat Sal dan aku keteteran. Mengantuk sedikit-sedikit ketika jam pelajaran berlangsung bukanlah menjadi hal yang merisaukan bagi kami, toh juga materi pelajaran yang disampaikan guru-guru bisa kami tangkap dengan baik.

Namun, satu hal yang menjadi catatanku, selama aku bergabung bekerja dengan Sal tiap malam atau kadang sekali tempo pada siang hari, aku berusaha tidak menyinggung hal-hal yang bersifat pribadi Sal. Sebutlah semisal hubungannya dengan Bulan, sampai ke soal peristiwa aneh yang pernah dilaporkan Dore maupun Sunu kepadaku tempo hari. Aku hanya mengumpan percakapan-percakapan sekitar perkembangan film maupun musik. Atau, aku akan merespon aktif kalau Sal bertutur tentang dunia kepenulisan, termasuk cerita tentang dirinya baru-baru ini disurati dan dipanggil oleh Pimpinan Redaksi Koran Bali.

“Ya, Gung, aku sempat terkejut menerima surat dari Pimpinan Redaksi Koran Bali. Setelah kubaca, itu surat panggilan agar aku datang ke kantor redaksi menghadap pimpinannya.  Itu gara-gara cerpenku yang telah dimuat. Barangkali karena melihat beberapa karya lain yang telah kukirim menyusul, pihak redaksi menilai aku berbakat di bidang jurnalistik atau kewartawanan. Jika aku bersedia, pihak redaksi menawariku agar aku mau menjadi koresponden. Tugasku adalah mengirim tulisan berupa karya sastra, artikel, hingga laporan-laporan ringan secara rutin ke redaksi. Kata mereka, jika aku lulus SMA kelak, sambil kuliah aku akan langsung diangkat menjadi koresponden resmi sebelum diangkat menjadi wartawan tetap,” beber Sal.

“Oh, luar biasa itu, Sal. Bener kan, sejak di SMP dulu aku sudah meramalkan dirimu kelak akan jadi wartawan. Lanjutkan itu, Sal. Aku juga bangga kelak akan punya teman seorang wartawan yang juga sastrawan,” tanggapku.

“Ah, gayamu Gung, pakai sudah meramal segala…,” seloroh Sal.

“Lho, bener! Isi surat-surat yang kamu tulis dari Jakarta dulu itu sudah mirip seperti isi koran atau majalah saja layaknya. Salah satu di antaranya kupajang di koran dinding sekolah dan semua memuji serta mengatakan bahwa tulisan tersebut sudah bukan seperti tulisan anak seusia SMP,” kataku.

“Ya, ya, selalu saja itu yang kamu katakan,” tangkis Sal.

“Eh, itu fakta lho!” balasku.

Sudah sering kusimpulkan bahwa Tuhan telah menciptakan sosok anak muda sempurna bernama Salya. Sampai-sampai aku sendiri tak mampu merumuskan perasaanku padanya, antara bangga dan iri bercampur aduk. Semua kemampuan dia punya. Kecuali satu kekurangan atau ketidaksempurnaannya, dia yatim-piatu dan latar belakang keluarganya yang masih abu-abu atau sangat misterius. Terlepas dari rasa iriku atas keserba-bisaannya, aku pun sesungguhnya merasa sangat beruntung diciptakan Tuhan untuk menjadi teman Salya. Keberadaan Salya seperti membawa spirit luar biasa pada perjalanan hidupku, sejak masa kelas 1 SD hingga aku menginjak bangku kelas 3 SMA sekarang.

Suatu kenyataan tersendiri yang tak bisa kupungkiri kualami belakangan ini, jujur saja, aku punya banyak uang. Benar, dalam batas ukuranku, uang sakuku pun kini berlimpah. Semula memang kupikir, dengan terlibatnya aku bekerja bersama Sal, aku akan diberi uang sekadarnya oleh Pak Tedi karena keberadaanku hanya bersifat membantu saja. Ternyata, Pak Tedi memberiku upah secara profesional dan jumlahnya cukup banyak. “Sal, apakah uang yang kuterima ini tidak kebanyakan?” kataku sesempatnya ketika pertama kali aku menerima amplop berisi uang yang merupakan upah atas pekerjaanku.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!