Cerita Bersambung (109)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

DARI Bulan yang berpredikat siswa ranking pertama di kelasnya itu, aku juga mendapat banyak pencerahan.  Di luar dugaan, siswi yang kadang juga kupanggil Cok Is ini sangat fasih menjelaskan soal kiat-kiat belajar, misalnya bagaimana caranya menghafal dengan cepat. Gila, pikirku, gadis ini sudah cantik cerdas pula. Suatu hal yang selama ini hanya kudengar rumornya, kini kuakui kebenarannya karena dia menunjukkan kemampuannya langsung di hadapanku. “Bulan memang anak cerdas, itu sungguh tak terbantahkan,” simpulku.

Sungguh banyak hal baru yang kutahu dari sosok Bulan sejak aku masuk di satu kelompok belajar ini. Kalau saja aku masih ada banyak waktu buat ketemu Sal, tentu tentang Bulan ini sudah kukabarkan padanya. Terlebih ketika Bulan dalam sejumlah kesempatan ada saja menyinggung tentang Sal. “Sebagai sahabat dekatnya sejak kecil, menurut Gung Raka, seperti apa sesungguhnya sosok Salya itu?” tanyanya ujug-ujug pada suatu saat, begitu ada waktu senggang istirahat di sela belajar kelompok di rumah Jay, pas teman-teman lain kebetulan tak hirau karena aku dan Bulan duduk di beranda depan sambil menikmati camilan.

Tentu saja aku tak mampu menjawab seketika pertanyaan yang bagiku sangat mendasar itu. Dari mana aku harus memulai? Sedangkan sorot mata Bulan seperti menikam mataku dan memaksaku harus segera menjawab. “Maksudmu, apanya?” kataku seperti orang bego.

“Ya…, pribadinya, mungkin,” jawab Bulan agak mengambang. “Sebab, maaf, dalam pengamatan saya selama ini, Salya itu seperti memiliki kepribadian atau sikap yang tertutup, introvert, misterius, dan susah ditebak…”

“Tepat! Seperti itulah pribadinya. Sebagai sahabat terdekatnya, sampai detik ini malah hanya satu yang bisa saya simpulkan tentang dia: misterius! Ya, misterius pribadinya atau sikapnya, misterius pula latar belakang keluarganya. Dalam banyak hal dia sangat tertutup, tak jarang saya juga dibuatnya kesal karena di situ, sebagai sahabat, saya justru ingin membantunya setulus hati. Saya akui, selama kami bersahabat, dia telah banyak sekali membantu saya. Sampai-sampai, dia tidak akan segan-segan mengorbankan keselamatannya sendiri demi teman. Jangankan Bulan, demi Tuhan, saya sendiri bingung,” kataku.

Bulan menarik nafasnya yang terdalam, lalu menghempaskannya jauh-jauh seiring dengan tatapan matanya yang beralih menerawang ke halaman depan beranda.

“Oh ya, Bulan sudah membaca cerpennya yang dimuat di koran itu?” pancingku.

“Sudah. Malah saya baca berulang-ulang. Apakah di cerpen itu Salya menceritakan dirinya sendiri?” balik Bulan.

Aku sedikit kaget. “Bulan, ternyata dugaan kita sama. Terus terang, saya juga menduga begitu. Ketika dugaan ini saya sampaikan pada Sal dengan nekat, dia malah memberikan jawaban yang sangat tidak transparan, mengambang di awang-awang. Dia bilang, karya sastra itu tergolong fiksi. Apa yang ditulisnya di sana umumnya bersifat fiktif. Dengan entengnya dia bilang, namanya juga mengarang, ya itu karangan semata. Dia bilang, penulis mempersilahkan pembacanya untuk menafsir karya itu sebebas-bebasnya, tak ada yang melarang. Para penulis umumnya memiliki imajinasi liar dan mereka rata-rata mampu membawa pembacanya larut di situ serta menganggap apa yang dibacanya itu adalah peristiwa nyata,” beberku.

“Saya punya feeling kuat, terlepas dari bahwa itu karya fiktif, sebagian kisah di dalamnya adalah fakta tentang latar kehidupan sejati Salya,” tegas Bulan.

“Sekali lagi, feeling kita sama, Bulan,” tambahku.

Sejenak Bulan memandangku, namun kemudian beralih lagi ke halaman. “Yang kemudian banyak menjadi pemikiran saya sekaligus juga bisa dikatakan membebani saya, Salya selalu memakai simbol-simbol Bulan dalam karyanya. Mulai dari puisi yang Gung Raka salin dan berikan kepada saya itu, sampai lagu yang dinyanyikan di televisi dan cerpen yang dimuat di koran. Ada segelintir teman yang kebetulan ngeh, mencermatinya, menilai, lalu mengatakan bahwa lewat karya-karyanya Salya sangat memuja-muja saya. Saya jadi semakin rikuh juga dibuatnya. Menurut Gung Raka, bagaimana?” paparnya.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!