Cerita Bersambung (107)

posbali.id

Oleh: Gus Martin

SUDAH kuduga apa reaksi Sal setelah mendengar penjelasanku ini. Malah ia tidak hanya tertawa, tapi juga meledek. “Ow, ow, ow… itu artinya Gung benar jatuh cinta padanya! Begini saja, sekarang balik, bagaimana kalau aku bergerak membantumu mempertemukan kamu pada Gung Win-mu itu? Kamu tahu rumahnya?” ujar Sal.

“Tahu,” jawabku.

“Sekolahnya?” susul Sal.

“Belum,” jawabku lagi.

Ledekan Sal seolah berlanjut. “Ah kamu, Gung! Kalau kamu memang terus-terusan sungguh memikirkan Gung Win, kenapa untuk sekadar melacak ke mana dia melanjutkan sekolah tidak kamu lakukan? Masak sampaisampai di mana gadis pujaanmu itu sekarang bersekolah kamu tidak tahu?” cerocos Sal sembari tertawa di kulum dengan gaya sinisnya yang dingin itu.

Aku pun jadi serba salah. Kupikir-pikir, tak salah juga cerocos Sal itu. “Ya, kuakui, itulah sebagian dari kekonyolanku,” tanggapku lemah.

“Itu bukan kekonyolan, Gung, tapi keterlambatan,” sergah Sal. “Namun bagiku, kamu belum terlambat jauh. Segala sesuatunya bisa dimulai saat ini. Aku akan membantumu sepenuhnya, Gung. Percayalah,” imbuhnya.

Diseriusi seperti itu, terus terang saja aku jadi kikuk sebagaimana juga Sal sering kuperlakukan begitu. Baru kali ini pula aku bisa memaklumi bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu. “Ah, maaf Sal, izinkan aku meminjam kata-katamu tadi karena aku tidak mahir merangkai kata-kata. Aku hanya bisa mengerti maksudnya, namun kurang mampu mengatakan dengan kalimat. Sal, jatuh cinta itu anugerah Tuhan. Namun, aku sadar, jatuh cinta tidaklah harus diwujudkan menjadi proses pacaran yang artifisial sebagaimana umumnya dilakukan anak-anak remaja seusia kita. Jatuh cinta itu peristiwa alami…,” paparku.

“… namun,” secepatnya Sal menjeda,” kamu tidak bisa menuliskan semua yang sedang kamu rasakan, itu semua hanya di pikiran, perasaan, serta di dasar hati yang paling dalam dan paling jujur. Bukankah sosok Gung Win itu di matamu juga bukan sekadar semata fi sik, namun spirit dan imajinasiku?”

Betapa maluku jadi bertambah dikerjai Sal begitu. “Sal, jangan ngeledekku!” kataku.

Sal memapar wajahnya ke hadapanku. “Eh, di bagian mana aku ngeledek? Aku bicara serius bahwa aku akan membantumu,” serangnya.

“Tidak usah, Sal,” tangkisku pendek.

“Kenapa?” balik Sal.

Sebelum sempat kubalik menjawab, temanteman sekelasku telah datang kembali dan berkeliaran di sekitar kami. Perhatian kami pun terurai buyar dengan sendirinya. Terlebih kemudian teman-teman grup band kelas kami secara menghebohkan pula menyoal masalah latihan. “Sudah waktunya kapasitas latihan kita tingkatkan, Gung! Untuk kali terakhir kita tampil nanti pada hari perpisahan, kita harus benar-benar menampilkan performance kita yang terbaik,” cerocos Rio dan diimbuhi lagi dengan kalimat-kalimat provokatif personel band yang lain – Guat, Ben, Gun, dan Jay.

Kucermati, mungkin pikirannya sama denganku, Sal menilai sikap teman-teman ini agak over. Masak untuk sekadar menyoal masalah latihan saja sampai heboh-heboh begitu, padahal bagiku dan Sal itu masalah rutinitas semata. “He, soal latihan begitu saja jadi heboh begitu. Sejak kapan aku tidak memikirkan bahwa kita harus benar-benar menampilkan performance kita yang terbaik?” kataku sedikit kesal.

“Ya, jika memang latihannya harus kita persering, ayo kita lakukan. Tapi harus ingat bahwa kita juga sekarang punya jadwal jam belajar berkelompok, jangan lupakan itu, dan jangan sampai mengganggu. Bukankah kita semua ini juga ingin sukses dan lulus dengan baik dari sekolah ini?” timpal Sal. Sal ibarat menghipnotis semuanya, seketika saja cerocosan mulut teman-teman kami teredam begitu saja. Dan lebih sempurna lagi redamannya karena bel masuk kelas yang suaranya bak suara panjang bel pertanda keberangkatan kapal angkutan penumpang di Pelabuhan Gilimanuk itu tibatiba berbunyi dengan nyaringnya.

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!