Celengan Amal

SENIN, 14 Agustus , digelar upacara Peringatan Hari Jadi ke-59 Provinsi Bali. Memaknai hari jadi itu, Gubernur Made Mangku Pastika mendorong akselerasi program pembangunan, khususnya yang berkaitan langsung dengan kemaslahatan masyarakat.

Yang menarik pada acara itu, ada acara memecahkan celengan amal. Uang yang berhasil masuk ke celengan amal itu Rp207.433.350. Uang itu akan disalurkan kepada masyarakat miskin dan lansia melalui sejumlah media dan Yayasan ANOM (Atas Nama Orang Miskin).

Celengan amal itu telah dibudayakan oleh Gubernur Pastika. Tujuannya menggugah kepekaan sosial ASN di lingkungan Pemprov Bali. Ia juga menganjurkan masyarakat yang punya rejeki lebih untuk melakukan hal serupa. Kata Pastika, bikin celengan seperti ini dan pecahkan pada momentum yang penting seperti ulang tahun. Sumbangkan isinya kepada mereka yang membutuhkan.

Anjuran Mangku Pastika ini memang patut kita renungkan, dan selanjutnya dijadikan tradisi. Baik instansi pemerintah maupun swasta, memang patut menjadikan celengan amal ini sebagai sebuah napas kehidupan. Celengan amal ini bisa dijadikan symbol kepekaan atau kepedulian social.

Sebagai makhluk social yang dianugerahi “sabda, bayu, idep”, maka sepatutnya kita menanamkan semangat “manyama braya”, bahwa kita (semua makhluk) bersaudara. Oleh karena itu, kita tentu ingin supaya semua makhluk berbahagia. Seseorang yang telah mencapai tingkat spiritual tertentu, selalu menginginkan kebahagiaan semua makhluk, baik dirinya sendiri, orang lain, orang yang menyukai atau tidak menyukainya. Semua itu, boleh bisa disebut sebagai wujud kasih sayang.

Salah satu bentuk konkret kasih sayang itu adalah berdana punia antara lain melalui celengan amal. Celengan amal ini bisa dan sangat baik ditradisikan di tingkat banjar. Dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, kegiatan berdana punia sangat sulit dilakukan. Sebab, untuk memperoleh dana juga sangat sulit. Oleh karena itu,untuk melakukan dana punia, perlu belajar. Pada mulanya dimulai dari yang sedikit, sebelum dapat memberikan yang lebih besar.

Jadi, kesimpulannya, kita tidak hanya cukup beragama di KTP. Ajaran agama mesti kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *