Catatan Kunjungan Mentan Amran ke NTB

posbali.id

Mampu Tahan Impor Jagung, Mentan Curhat “Jarang” Diatensi Petani

 

Fahrul Mustofa

SELAMA dua hari  (Jumat-Sabtu 20/8), Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan blusukan ke NTB. Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 48 tahun lalu itu, tak segansegan turun langsung ke sawah guna bersinggungan dengan lumpur yang kotor.

Amran rela mengendarai traktor sendiri hanya sekadar memanen padi milik petani di Desa Keru, Kecamatan Narmada, Lombok Barat pada Jumat (19/8) lalu. Hal serupa juga dilakukannya saat melakukan panen raya jagung di Desa Tanga, Kecamatan Utan, Sumbawa pada Sabtu (20/8) kemarin.

Amran yang saat itu memakai setelan baju putih dengan celana hitam rapi langsung turun memanen padi menggunakan traktor. Ia langsung mengemudikan traktor pemotong padi. Menurutnya, saat kunjungan dengan Presiden Joko Widodo di Dompu, harga jagung waktu itu jatuh sekitar Rp 1.500.

Sehingga, ia berjanji akan melakukan kebijakan nasional guna menahan impor 1 juta ton jagung untuk mengembalikan harga jagung agar normal. “Saat itu, langkah saya itu, diserang habis-habisan dan bahkan isu reshuffl e. Masalah reshuffl e tidak ada di kepala kami. Kami ikuti takdir. Karena yang perlu dipertahankan adalah ideologi, kejujuran, dan integritas,” ungkap Amran dalam sambutannya, kemarin.

Ia mengatakan, harga jual jagung saat ini, mulai membaik. Bahkan, komoditas dalam impor pangan sudah turun drastis. Namun sayangnya, kerja kerasnya menahan masuknya jagung impor, justru tidak pernah ada ucapan terima kasih dari para petani di semua wilayah Indonesia, termasuk di NTB.

“Hari ini, harga jagung membaik dan impor menurun 60%. Biasanya naik 2 persen terus menerus dalam satu tahun. Tapi, kerja keras saya itu tidak pernah diatensi, termasuk oleh petani. Tapi, saya tetap bekerja saja,” kata Amran.

Dengan mulai normalnya harga jagung. Mentan Amran lantas menantang para petani NTB untuk dapat memenuhi target panen. Sebab, jika hal itu bisa dilakukan, maka pihaknya tidak segan-segan akan menambah subsidi bagi petani di Nusa Tenggara Barat. Sebaliknya, jika tidak memenuhi target maka akan ada pencabutan subsidi untuk tahun berikutnya.

“Target saya, untuk sendiri naik 38 kali lipat menjadi Rp 56 miliar. Produksi tidak naik aku tarik anggaran. Sudah ada 10 anggaran daerah yang ditarik dan ditambahkan ke daerah lainnya karena tidak memenuhi target. Masing-masing anggaran bantuan itu sebesar Rp 10 miliar,” ujar Amran.

Pemerintah, kata dia, akan terus mengevaluasi produksi petani. Pada kesempatan ini pula, Mentan memberikan sumbangan kepada Pemkab Lombok Barat yakni sebanyak 10 traktor dan 20 pompa.

Diakuinya, pemerintah akan memberikan perhatian serius bagi NTB yang merupakan salah satu lumbung pangan nasional. Dimana, NTB kini mempunyai 400.000 hektar lahan pertanian. Sehingga, sektor pertanian dirasa merupakan salah satu sektor yang mampu memberikan kontribusi bagi perbaikan ekonomi nasional.

“Indonesia mendapat global food security indeks atau ketahanan pangan tertinggi di dunia oleh lembaga survei di London. Jadi, sektor pertanian kita telah mampu berkontribusi dalam sisi mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Wajar, NTB kita setting khusus dibidang pengembangan sektor pertaniannya,” tegas Amran.

Ia menjelaskan, adanya fenomena La Nina kali ini harus bisa dimanfaatkan untuk dapat menggenjot produksi pertanian. Caranya, program tanam cepat itu harus dilakukan. Mengingat,  peristiwa alam La Nina, atau tingginya curah hujan meski di tengah musim kemarau harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik.

“Pertama kami sengaja turun untuk melakukan akselerasi tanam cepat. Karena sekarang ada berkah yaitu La Nina. Karena La Nina datang dari Juni-September saat kemarau kita butuh hujan. Ini berkah luar biasa. Momentum ini tidak boleh kita lepas,” jelas Amran.

Ia lalu mencontohkan pada bulan Juli lalu saat pelaksanaan percepatan tanam, yang mengukir sejarah karena area bercocok tanam pada lahan 900.000 hektar untuk skala nasional. Padahal, biasanya penanaman paling tinggi adalah seluas 600.000 hektar dan tidak pernah melebihi 700.000 hektar.

“Kami sudah membaca 10-20 tahun tidak pernah terjadi. Kemudian Agustus ini kita maksimalkan. Kalau bisa 1 juta hektar tanam. Dulu hanya 500.000 hektar. Ini yang perlu kita pahami bersama bahwa ada bulan-bulan paceklik pertanian di Indonesia,”  ungkap Amran lagi.

Namun, Indonesia akan menghadapi bulan paceklik dari Desember-Februari. Selama 3 bulan nanti, area bercocok tanam hanya 500.000 hektar. “Kalau 500.000 hektar panen, artinya apa? Dikali dengan 6 itu 3 juta. Tiga juta dibagi 2 sama dengan 1,5. 1,5 produksi per bulan beras. Sedangkan kebutuhan Indonesia 2,6 juta. Artinya ada defi sit,” jelas dia.

“Artinya ada bulan-bulan produksinya shortage yaitu 1,1 juta selama 3 bulan. Tapi kalau kita tanam 1 juta hektar kali 6 ton nggak usah 8 tahun seperti yang dikatakan sini berarti 6 juta dibagi 2 berarti 3 juta beras. Kita butuh 2,6 juta artinya bulan-bulan shortage ini hilang,” beber Amran menguraikan.

Hitung-hitungan itulah, lanjut Amran merupakan strategi yang sedang dibangun oleh pemerintah. Kemudian ia mencontohkan pada komoditas jagung dan bawang. Pada bawang, dikatakannya sudah tidak impor dan bahkan sudah ekspor pada bulan lalu.

“Impor jagung sampai bulan ini turun 60%. Itu sangat ekstrim karena gerakan kita semua yang bahu membahu. Ingat ketahanan pangan adalah ketahanan negara,” tandas Amran Sulaiman.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin mengaku tertantang dengan tawaran Menterian Pertanian untuk menyiapkan lahan jagung 400 ribu hektare. Meski begitu, dikatakan Amin, capaian produksi pertanian NTB setiap tahun selalu meningkat. “Kita patut bersyukur produksi pangan kita mengalami peningkatan. Bahkan, untuk sasaran produksi dan luas tanam di tahun 2016 terjadi peningkatan,” jelasnya.

Terpisah, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid mengatakan, luas lahan pertanian di daerahnya adalah 17.000 hektar. Peningkatan hasil panen, kata dia, membutuhkan bantuan pemerintah pusat, seperti membangunan embung dan irigasi dan sebagainya.  “Karena bantuan masih banyak yang belum tersentuh dengan merata ke petani. Kami memerlukan alat mesin pertanian traktor, mesin pompa, dan alat mesin panen serta perbaikan irigasi meliputi embungnya,” kata Fauzan.

Turut mendampingi Mentan dalam memanen padi dengan mesin yaitu, Aster (Asisten Teritorial) KSAD Mayjen TNI Komarudin, dan Wagub NTB Muhammad Amin. Hadir pula Danrem 162 Kol Inf Farid Makruf, dan Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid selaku tuan rumah pada acara tersebut. ***

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Satu tanggapan untuk “Catatan Kunjungan Mentan Amran ke NTB

  • 05/11/2018 pada 3:58 AM
    Permalink

    England internationals Shaun Wright-Phillips, Joleon Lescott and Wayne Bridge are among the high-profile names manager Roberto Mancini wants out of Eastlands. Manchester City to show English trio the door as Roberto Mancini wields axe over several stars

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!