Berawal Jual Sapi, Gigih Lestarikan Jalak Bali

posbali.id

I Ketut Gede Jiwa Artana, Penerima Penghargaan Menteri LHK

 

Putu Adi Wirawan

BURUNG Jalak Bali kini populasinya sudah semakin sedikit dan menjadi burung yang dilindungi. Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan keberadaannya.

Seperti yang dilakukan I Ketut Gede Jiwa Artana bersama Kelompok Penangkar Kicau Bali. Upaya menangkarkan burung Jalak Bali yang ia lakukan menuai sambutan positif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Bahkan, setelah empat tahun melakukan penangkaran burung yang biasa disebut Curik Bali itu, Artana memperoleh penghargaan dari Menteri LHK Dr Ir Siti Nurbaya, M.Sc.

Penghargaan tersebut diterima Artana dalam peringatan Hari Konservasi Alam Nasional yang berlangsung di Taman Nasional Bali Barat pada Rabu (10/8). Kategori penghargaan yang diterimanya adalah Penangkar dalam Upaya Konservasi Curik Bali.

Saat dijumpai pada Kamis (11/8) di tempat penangkaran miliknya, Artana mengaku bersyukur dengan penghargaan yang diberikan Menteri LHK tersebut. Penghargaan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi dirinya bersama Kelompok Penangkar Kicau Bali untuk terus menangkarkan dan mengembang-biakkan burung Jalak Bali yang statusnya dilindungi karena terancam perburuan liar.

Artana menceritakan bahwa upaya penangkaran yang dilakukannya bersama Kelompok Penangkar Kicau Bali sudah mulai dilakukan sejak 2012. Itu pun berawal dari satu pasang burung Jalak Bali yang dibeli di Solo, Jawa Tengah. Untuk membeli sepasang burung tersebut, dia sampai harus menjual seekor sapi yang harganya sekitar Rp15 juta. “Mengawalinya saat itu sangat berat. Saya sampai harus jual sapi,” katanya.

Dalam perjalanannya, sepasang ekor burung Jalak Bali tersebut kemudian berkembang menjadi empat pasang. Di titik ini, upaya penangkaran yang dilakukannya masih belum mudah. Bagaimana tidak, dia harus menyiapkan kandang yang ideal bagi burung Jalak Bali hasil tangkarannya. Sehingga untuk menyiapkan kandang di tahap awal, dia harus meminjam uang ke bank.

“Syukurnya saat itu kami didukung Pak Ketut Suryadi, Ketua DPRD Tabanan. Akhirnya sedikit demi sedikit upaya penangkaran ini berjalan. Bahkan, dari Pemkab Tabanan kami dihibahkan dua pasang burung Jalak Bali yang kemudian berkembang jadi tiga pasang,” imbuhnya.

Dukungan tidak hanya berhenti di situ saja, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali juga mulai memberikan motivasi untuk terus melakukan penangkaran. Sehingga, tempat penangkaran burung miliknya kini berkembang terus. Bahkan, kandang tempat perkawinan burung Jalak Bali yang semula dari bahan yang sederhana seperti triplek berubah menjadi lebih representatif lagi.

“Untuk burungnya sendiri sudah mencapai sekitar dua ratusan ekor. Indukan saja ada 50 pasang dan anakan 50 pasang juga,” ungkapnya.

Berkat kegigihannya tersebut, Artana bersama kelompoknya diikutsertakan sebagai Kader Konservasi yang tujuannya mengajak masyarakat luas untuk ikut melakukan konservasi. Bahkan, beberapa kali tempat Kelompok Penangkar Kicau Bali dijadikan lokasi pelatihan PSKL (Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan).

“Kami jadi narasumber di bagian teknis dan pemasaran. Apalagi BKSDA sekarang ini membuka keran seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin membentuk kelompok. Tinggal menghubungi Resor BKSDA terdekat. Kami siap membantu untuk teknisnya,” jelasnya. ***

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!