Beras Miskin

posbali.id

PERHATIAN Gubernur Bali Mande Mangku Pastika terhadap rakyat miskin rupanya memang tiada henti. Hal itu tersirat, ketika ia menyorot tentang penyaluran beras miskin (raskin) lewat orasinya pada Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), di Denpasar, Minggu (18/9) lalu. Mangku Pastika mengatakan, saat ini masih ada oknum kepala desa yang menerapkan penyaluran beras miskin dengan pola bagi rata. Atas fenomena itu, ia sangat berharap kesadaran semua pihak ntuk mengawal penyaluran raskin agar diterima oleh mereka yang benar-benar berhak.

Mangku Pastika menyayangkan masih adanya oknum kepala desa yang menerapkan pola bagi rata itu,  apalagi dengan asumsi, semua warga punya tanggung jawab yang sama di desa, sehingga raskin yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi mereka yang miskin diberikan pula kepada warga yang notabene sudah mampu. Apa yang diungkap Mangku Pastika tersebut, patut mendapat perhatian semua pihak, terutama bagi kepala desa yang mendapat jatah beras miskin tersebut. Konon, menurut beberapa informasi, raskin tersebut ada yang dijual ke pasar. Jadi, ada kemungkinan, warga yang sudah mampu tersebut melakukan hal itu, karena raskin biasanya memiliki kualitas yang rendah.

Pemprov Bali di bawah kepemimpinan Mangku Pastika, rupanya memang hendak menerapkan kepemimpinan Catur Pariksa yakni, “sama, beda, dana, dan danda”. Sama, yakni tidak membedakan warga berdasarkan hal-hal tertentu. Siapapun yang mengundangnya, jika memang tidak ada halangan, akan menghadirinya. Beda, yakni bisa membedakan berdasarkan hak dan kewajiban atau faktor tertentu. Contoh yang bisa dikemukakan yakni tentang pembagian raskin tadi. Menurut Mangku Pastika, yang berhak mendapat raskin adalah bagi yang memang benar-benar tak mampu. Yang menarik pula, Mangku Pastika sering menyampaikan kepada masyarakat desa pakraman, bahwa bagi warga yang tak mampu agar diberi keringanan dari kewajiban membayar iuran untuk berbagai keperluan misalnya dalam berupacara. Apalagi, Pemprov telah menyalurkan dana kepada desa pakraman. Jadi, dalam hal membayar iuran, mesti dibedakan antara yang tak mampu dengan yang mampu.

Kemudian dana, yakni pemurah, sosial atau dalam bahasa Bali disebut bares. Selain program bedah rumah, Mangku Pastika juga acapkali “Ngempug Celengan” dan menyerahkan bantuan kepada warga miskin, apalagi disertai sakit-sakitan. Dalam hal menerapkan konsep dana ini, mungkin lebih banyak yang kita tak ketahui.

Terakhir danda, yakni ganjaran. Danda di sini bisa diterjemahkan lebih luas yakni selain berarti sanksi atau hukuman juga bisa berarti penghargaan. Kita bisa mendapat banyak contoh tentang hal ini, jika memang menelusurinya.

Kembali ke topik raskin. Namanya juga beras miskin, maka bantuan ini mestinya memang benar-benar untuk warga miskin. Kalau yang kaya juga tega atau malah ingin menerimanya, maka orang kaya itu bisa disebut “miskin” dalam tanda kutip. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!