Belajar dari Kemerdekaan

posbali.id

Raka Santeri

CITA-CITA kemerdekaan pastilah bukan sekedar men- yangkut hal-hal yang bersifat pisik dan politik, tetapi juga budaya, kepercayaan, dan kerohanian. Tetapi selama 71 tahun merdeka, nampaknya yang sudah tercapai barulah yang bersifat pisik dan poli- tik. Itu pun masih belum sepenuhnya kokoh.

Negara Republik Indonesia masih dirongrong oleh separatisme, seperti Gerakan Pembebasan Papua Barat Bersatu (ULMWP) yang semakin giat mencari dukungan dari negara-negara di kawasan Pasifi k Se- latan, khususnya dari kelompok negara-negara Mela- nesia. Disamping itu, masih ada Republik Maluku Selatan (RMS) yang kini dipimpin oleh Johanes Gerardus Wattilete dari pengasingannya di Belanda.

Sebagai bangsa, Indonesia juga masih mengha- dapi masalah intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang mengkhawatirkan. Pemerintahan juga terus dirongrong tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepo- tisme. Di sisi lain, beredarnya narkotika serta obat- obat berbahaya juga semakin meluas.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan baru-baru ini menyimpulkan hampir separuh responden (49,9 persen) memandang nasionalisme bangsa ini kian lemah.  Ada sejumlah persoalan yang menjadi ancaman nasionalisme, seperti lunturnya identi- tas budaya dan kearifan lokal, serta menurunnya praktik toleransi. Di bidang ekonomi, pemerataan pembangunan yang tidak tercapai, sulitnya lapan- gan kerja, kemiskinan, dan tingginya ketimpangan, juga ikut menjadi ancaman.

Nampaknya memang tidak mudah meneg- akkan usaha untuk mencapai sembilan agenda prioritas Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla yang dikenal dengan sebutan Nawa Cita dan Revolusi Mental. Tekad presiden untuk bekerja cepat, juga sempat menimbulkan masalah, bahkan masalah yang cukup fatal seperti pengangkatan warga negara asing menjadi menteri di kabinet. Nampaknya menteri-menteri yang berwenang sebagai pembantu presiden, kurang cermat dan pengalaman ketika melaksanakan tugas mereka dalam soal pengangkatan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar tersebut.

Akankah masalah yang sampai menyeret presiden melakukan pelanggaran Undang- Undang itu berbuntut panjang, atau anggota DPR dan masyarakat cenderung menggenapi persoalannya sampai di sini saja? Akan ada lagikah pergantian kabinet untuk mengangkat Menteri ESDM yang baru, sekalian mencopot menteri-menteri yang seharusnya bertang- gung-jawab terhadap penelitian para calon menteri dalam perombakan kabinet yang lalu?

Melihat besarnya jumlah partai yang tergabung untuk mendukung pemerintahan Jokowi-JK, nampaknya masalah pengangka- tan menteri warga negara asing ini cenderung akan disudahi sampai di sini saja oleh DPR. Apalagi presiden telah segera memberhenti- kan, sebagai tanda bahwa presiden tidak ada niat melanggar undang-undang dan dengan jujur mengoreksi kesalahan yang terjadi.  Tetapi bagaimana publik yang memiliki kekuatan semakin kokoh selama ini? Kita akan melihat perkembangan selanjutnya di hari-hari mendatang.

Upacara peringatan hari kemerdekaan ke-71 yang berlangsung 17 Agustus 2016 kemarin juga memberikan gambaran kepada kita bahwa kemerdekaan adalah usaha tak kenal henti untuk belajar dari sejarah, guna menyempurnakan diri sebagai individu, sebagai masyarakat, dan sebagai bangsa di tengah-tengah peradaban dunia. Menurut Bung Karno, semangat proklamasi “adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme”.

Karena itu sebagai individu dan masyarakat Indonesia, mari k ita mencoba memahami sesama dalam keragaman suku, budaya, agama, dan kepercayaan dengan sikap saling menghormati dan saling membantu. Meyakini bahwa alam semesta, termasuk segala isinya, adalah ciptaan Tuhan yang patut kita syukuri dan pelihara bersama. Bisakah kita jadikan peringatan hari kemerdekaan sekarang ini se- bagai rangkaian usaha yang lebih kuat untuk menyambung rakaian usaha yang telah kita lakukan sebelumnya? ***

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!