Bekali Diri Sebelum Membantu Orang Lain

STATUSNYA sebagai anak pertama, dari pasangan Fredrik Billy dan Lony Rihi, Nadya merasa mempunyai kewajiban memberi teladan untuk kedua adiknya, yakni Gradys Raina dan Gerald. Menyadari sebagai kaum hawa, sebelum mampu memberi contoh, terlebih dahulu harus membekali diri, seperti layaknya motto Shorinji Kempo “Kasih Sayang Tanpa Kekuatan adalah Kelemahan, Kekuatan Tanpa Kasih Sayang adalah Kezaliman”.

Artinya kalau kita bisa dan mampu akan sangat berguna untuk menolong orang lain yang kesusahan. Tapi tidak ada gunanya bila kepintaran itu tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Nadya mengartikan tidak sekedar untuk membela diri, tapi juga menjadi panutan kehidupan sehari-hari dan perlunya keberhasilan di dunia pendidikan.

Dwi sukses yakni sukses di kempo dan dunia pendidikan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan, bahkan keduanya saling memenuhi. Ia mencontohkan ketika diterima di Universitas Udayana, setelah diketahui mempunyai skill di cabang kempo, Nadya diberi kuasa mengelola Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) cabang kempo sebagai ketua.

Kualitas kempo yang melekat pada dirinya sangat memberi arti bagi statusnya sebagai mahasiswi di Fakultas Hukum Unud. Bahkan memperoleh dukungan ketika dirinya mengikuti event di luar Bali. Kendati kesibukannya meningkat, tidak merasakan beban meski harus merelakan waktu istirahat untuk berlatih bersama rekan-rekannya. Bahkan skill yang dimiliki memberi nilai tambah dalam pergaulan, mudah komunikasi dengan teman-temanya.

Lantas apa yang disasar Nadya memilih Fakultas Hukum Unud, apakah ingin menggenggam status seperti kedua orang tuanya sebagai pengacara atau lawyer? Ternyata itu bukan yang utama, karena yang utama tujuannya adalah sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah atau Notaris. “Keinginan pertama saya adalah sebagai notaris, tetapi juga tidak menutup kemungkinan mengikuti jejek kedua orang tua sebagai lawyer,” ucap Nadya.

Kendati cita-cita itu terus mengikuti langkahnya, gadis berdarah Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu memaparkan tidak bisa meninggalkan statusnya sebagai sosok yang mencintai olahraga shorinji kempo. Kalaupun nanti statusnya sebagai atlet prestasi sudah berakhir karena usia, tugasnya tetap di depan mata mengembangkan cabang kempo, dan mengikuti tahapan-tahapan kenaikan tingkat.

“Maunya biar melebihi keberhasilan sang ayah, kalau sekarang papa (Billyred) menggenggam V DAN, saya maunya melebihi itu. Begitu pula suksenya di dunia usaha,” ucapnya.

Tentu tidak mudah, perlu kerja keras.Baginya semua itu bisa dilakukan sepanjang tegar pada pendirian. Menurutnya kedua orang tuannya mempunyai peran besar guna menggapai cita-cita itu. Di dunia olahraga selalu memberi arahan sekaligus contoh riil agar bisa tegar, sigap dan tanggap dalam setiap tampilan. “Papa memberi arahan dan contoh karena pengalamannya sebagai atlet, tentu tidak diragukan dan patut diikuti,” katanya.

Begitu pula di dunia pendidikan, latar belakang bidang hukum dengan kedua orang tuanya memberi kemudahan untuk selalu bertukar pikiran ketika ada yang harus dipecahkan. Keinginan yang mulia itu menuntut dirinya bisa memilah-milah apa yang harus dilakukan dengan skala prioritas. Mampukah Nadya membagi waktu, mengingat di masanya juga terkadang disibukkan dengan bermain?

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *