Bangun Museum Lontar, Dukuh Penaban Siap Jadi Pusat Pelestarian Lontar di Bali

posbali.id

Foto: Peresmian Pasraman Sang Kul Putih sebagai penujang pembangunan Museum Lontar di Desa Adat Dukuh Penaban

KARANGASEM, POS BALI – Desa Adat Dukuh Penaban, Kelurahan Karangasem benar-benar serius meneruskan misi untuk membangun museum lontar terbaik di Bali. Cita-cita itu ditunjang dengan berbagai kesiapan pembangunan yang dilakukan secara terencana di lahan seluas 1,5 hektar yang terletak di tengah-tengah desa. Bahkan progresnya kini terus berjalan sehingga ditarget seluruh bangunan termasuk open stage museum rampung tahun 2018. “Kami target pembangunan museum selesai tahun 2018, namun sambil berjalan kami terus melakukan konservasi lontar dan pelatihan lontar di pesraman Sang Kul Putih yang sudah selesai di bangun di sini,” Ujar Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Wayan Suarya seusai acara peresemian Bale Sang Kul Putih dan penyerahan SK Susunan Panitia Pembangunan dan Pengembangan Museum Lontar di lokasi pembangunan Museum Lontar Dukuh Penaban, Selasa (14/11/2017).

Suarya menyampaikan bahwa Bale Sangkul Putih terlebih dulu dibangun karena sebagai tempat untuk konservasi lontar-lontar yang sudah ada. Sang Kul Putih yang merupakan pasraman tempat para jero mangku tersebut juga dipakai sebagai tempat pembelajaran isi lontar untuk warga dan para generasi muda Dukuh Penaban. “Saat ini kami memiliki 400 cakep lontar, namun baru 150 yang sudah berhasil dikonservasi,” terangnya.
Pihaknya menyampaikan untuk masalah koleksi, dari warga Dukuh Penaban sendiri jumlahnya terkumpul 400 cakep. Sementara ada bantuan lontar-lontar lain dari luar disanggupi oleh maestro-maestro lontar di Bali. Salah satunya oleh maestro Lontar Asal Buleleng, Sugi Lanus yang mengaku akan meminjampakaikan 250 cakep koleksi lontarnya. “Saya memiliki 250 salilan lontar siap untuk saya pinjampaikakan di museum lontar di sini,” ujar Sugi Lanus yang juga hadir dalam acara peresmian kemarin.

Sugi Lanus yang ikut duduk dalam tim kurator Museum Dukuh Penaban tersebut mengaku juga siap memfasilitasi agar museum lontar Dukuh Penaban nantinya bisa mendapatkan transkrip koleksi lontar yang menjadi koleksi Universitas Leiden di Belanda. ‘’Leiden punya sekitar 2.800 koleksi lontar. Di sini saya luruskan, lontar di sana lebih banyak dalam bentuk transkrip atau salinan dalam huruf latin, itu bisa kita minta sebagai koleksi di sini,’’ terangnya.

Pihaknya mengatakan nantinya museum Dukuh Penaban juga bisa menjadi pusat edukasi dan konservasi lontar sehingga tetap pengetahuan serta ilmu dalam lontar tetap lestari. Bisa juga sebagai tempat wisata dikunjungi untuk melihat-lihat koleksi selayaknya museum pada umumnya.

Maestro lontar lain yang siap membantu Dukuh Penaban mewujudkan cita-citanya adalah Ida I Dewa Gede Cakra. Maestro lontar asal Karangasem itu bahkan siap menaruh ribuan koleksi lontarnya di museum Dukuh Penaban sehingga bisa lebih terjaga dengan baik.

Selain itu juga ada maestro lontar dari Universitas Leiden, Prof. Dr. Hedi Hinzler. Wanita asli Jerman yang menjadi pemerhati dan peneliti lontar tersebut mengapresiasi Dukuh Penaban ingin mendirikan museum lontar terbaik di Bali. Pihaknya pun berharap dengan munculnya museum di Dukuh Penaban bisa membuat lontar lestari dan tetap dicintai generasi penerus. 017

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *