Bandara Ngurah Rai potensial jadi Hub Cargo Internasional Transshipment

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Sebagai bandara yang memiliki rute maskapai ke berbagai negara, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai dinilai berpotensi menjadi Hub Cargo Internasional Transshipment (kargo angkut lanjut). Namun sayangnya sampai dengan saat ini, penikmat bisnis kargo transshipment masih didominasi Bandara Changi Singapura yang saat ini memiliki pangsa pasar kargo udara terbesar di Asia Tenggara. Hal tersebut dikarenakan posisi Singapura yang strategis, ditambah dengan berbagai macam aktivitas penciptaan nilai tambah seperti pelabelan, pengemasan, dan kustomisasi. Padahal jika ditinjau dari sisi geografis, Indonesia tidak kalah dari Singapura. Namun sayangnya praktik transshipment belum banyak ditemui. ” Dari sisi konsumen lebih banyak suka ke Singapura, alasanya karena fasilitas bagus, nilai value tinggi. Untuk itu kita harus bekerja keras agar orang mau mencari kita. Kalau rutenya bertambah, kompartmen bertambah, tarifnya murah, lebih cepat menangani dan lebih bisa mendekatkan, maka kita akan bisa bersaing,”ujar Direktur Terminal Kargo dan Regulated Agent PT Angkasa Pura Logistik, Akhmad Munir saat acara Kajian Pengembangan Transship Kargo Udara Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, Kamis (29/11) di Kuta.

 

Sementara Kapuslitbang Perhubungan Transportasi Udara M. Alwi memaparkan sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, kinerja logistik di Indonesia memang masih belum memuaskan. Berdasarkan rilis terakhir dari Bank Dunia pada tahun 2018, peringkat logistics performance index (LPI) Indonesia berada di peringkat ke 46, kalah dengan Singapura di urutan 7, Thailand di urutan 32, Vietnam di urutan 39 dan Malaysia di urutan 41. Hal tersebut karena aspek logistik yang belum digarap secara baik, membuat beberapa kegiatan bisnis tidak berjalan secara optimal. Salah satunya adalah terminal kargo yanh sampai saat ini belum ada terminal udara kargo skala dunia (world-class) di Indonesia. Hal itu dinilainya harus ditingkatkan, salah satunya dengan transshipmen kargo internasional. Caranya dengan bergerak bersama dalam upaya mempercepat ketertinggalan tersebut.
Sebab sangat aneh jika negara besar dengan 17 ribu pulau, 260 lebih justru kalah dengan yang kecil. “Karena itulah sekarang kita mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas hasil kajian Pengembangan Transshipment Kargo Udara di Bandara l Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Nantinya kita buat tim kecil untuk melakukan upaya itu, selanjutnya kita akan bersurat ke Menko Kemaritiman melaporkan ini untuk bisa disikapi,”paparnya.

 

Dijelaskannya, Bandara l Gusti Ngurah Rai, Denpasar terdapat captive supply dari sisi angkutan pesawat langsung dari sisi selatan (Oseania), utara (Jepang, Korea Selatan, China), dan timur tengah (Uni Emirat Arab). Analisis menunjukkan bahwa mengirimkan kargo dari Australia ke Jepang Iewat Denpasar memiliki keunggulan waktu dibandingkan Iewat Singapura. Dari sisi kapasitas pun memadai, karena kapasitas belly pesawat di Ngurah Rai sebesar 2.000 ton pehari. Namun sayangnya itu baru dimanfaatkan sebesar 150 ton perhari saja, atau utilisasinya hanya sekitar 6 persen. “Terdapat kesenjangan kondisi saat ini dengan regulasi yang ada tentang ketentuan dasar transshipment, sirkulasi kargo, dan tata ruang terminal. Peran Kemenhub dalam mendukung pengembangan terminal kargo transshipment di Bali adalah sebagai regulator yang tidak hanya menentukan regulasi, namun juga mengontrol operator dalam melaksanakan target yang sudah ditetapkan. Keberhasilan pengembangan transshipment kargo udara di Denpasar harus didukung oleh semua pihak pemerintah, operator, dan penyedia jasa logistik,”tegasnya.

 

Kepala Otban wilayah IV, Erson tidak memungkiri memang kompartemen pesawat sudah siap dengan kapasitas 2000 ton perhari. Namun di dalam pelaksananya dalam kargo termasuk transshipmen, itu hanya dimanfaatkan sebesar 150 ton perhari saja 150. Hal tersebut tidak lepas dari kondisi gudang kargo yang saat ini hanya tertampung 50 ton saja. Untuk itudipeelukan adanya fasilitas yang harus dikembangkan, paling tidak harus dikembangkan menjadi menyikapi perhari 2000 ton. Salah satunya dengan memperbesar kondisi kargo 7 kali lipat dari kondisinya saat ini, namun keterbatasan lahan diakuinya juga menjadi masalah dalam hal ini. “Jadi harus ada kesiapan dan kesesuaian. Koneksitas regulasi harus ada kesesuaian antara karantina, bea cukai dan otoritas bandara yang mengawasi. Sehingga kelancaran untuk menjadikan perhari 2000 bisa tercapai. Ini yang harus kita cari melalui FGD ini, sekaligus untuk menjadikan Bandata Ngurah Rai ssbagai hub internasional,”jelasnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!