Awal Nopember dan Desember jadi awal musim hujan di Bali tahun 2018

posbali.id
Mundur I-III dasarian dari kondisi normal

MANGUPURA, POS BALI – Awal bulan Nopember dan Desember 2018 diperkirakan menjadi awal musim hujan di wilayah Bali. Kecenderungan hujan diprediksi akan lebih banyak terjadi pada bulan Nopember 53 persen dan di bulan Desember sebanyak 47 persen. Kondisi tersebut cenderung lebih mundur sedikit dari kondisi normalnya sekitar I-III Dasarian, namun hal itu dinyatakan masih dalam toleransi. Dimana kecenderungan sifat musim hujan tahun ini dominan bersifat normal yaitu sebanyak 53 persen dan bawah normal sebanyak 47 persen pada bagian selatan pulau Bali dan beberapa bagian di timur pulau Bali. “Kondisi musim hujan tahun ini masih normal. Kita mempunyai ukuran statistik musiman, yang minimal itu dipakai 30 tahun terkahir ini. Jadi itu yang kita pakai patokan pergeseran musim,”ujar Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, M Taufik Gunawan, Kamis (13/9).

 

Dipaparkannya, daerah yang pertama kali diperkirakan memasuki musim hujan pada awal November (November dasarian I) ini, yaitu wilayah Tabanan, Badung, Gianyar bagian Utara, Tabanan, Gianyar bagian Tengah, Badung, Bangli bagian Tengah. Sedangkan  awal musim hujan pada pertengahan hingga akhir November (dasarian November 1 dan II), diantaranya wilayah Jembrana bagian Utara, Jembrana bagian Selatan, Tabanan bagian Selatan, Buleleng bagian Selatan, Karangasem bagian Tengah, Tabanan bagian Timur laut, Bangli bagian Utara dan Barat laut. Sedangkan wilayah yang terakhir memasuki musim hujan, pada awall dan pertengahan Desember (Desember dasarian I dan II), diantaranya di Jembrana bagian Barat, Buleleng bagian Timur, Karangasem bagian Utara, Timur Dan Selatan, Gianyar, Klungkung bagian Selatan, Tabanan bagian Selatan, Badung bagian Selatan dan kodya Denpasar, Buleleng bagian barat dan Nusa Penida. “Perlu diwaspadal potensi hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir yang dapat terjadi pada musim peralihan dari kemarau ke musim hujan (Bulan Oktober, November). Masyarakat  diharapkan waspada terhadap hujan lebat yang terjadi pada puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari) yang dapat berpotensi menyebabkan banjir dam tanah longsor, khususnya di wilayah perbukitan (Bali bagian Tengah),”imbaunya.

 

Khusus pada wilayah Bali Utara, diakuinya kemungkinan musim hujan akan paling lambat di daerah tersebut dibandingkan dengan yang lainnya. Haltersebut dikarenakan cuaca faktor cuaca dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor global, regional dan lokal. Dimana faktor global bisa dipengaruhi elnino dan lanina, sedangkan regional dipengaruhi oleh angin musim, serta lokal dipengaruhi topografi. Dimana lambatnya musim hujan di kawasan Bali utara bagian utara dipengaruhi lokasi topografi di balik gunung dan angin yang belum sampai ke lokasi terkait, karena terhalang pegunungan.

 

Sementara kondisi iklim terkini di wilayah Bali sampai tanggal 10 September 2018 ini, hampir seluruh wilayah Bali diketahui tidak turun hujan dalam 10 hari terakhir. Bahkan ada beberapa daerah di wilayah pesisir utara Pulau Bali yang tidak mengalami turun hujan lebih dari 60 hari. Diantaranya Banjar, Buleleng, Susungbiu, Gerokgak, Kubutambahan, Sawan, Serirt, Sukasada, Tejakula, Kintamani Dan Kubu. “Perlu diwaspadai di daerah Tejakula dan Kubu, telah terjadi kekeringan Meteorologis, dimana sudah 160 hari disana tidak turun hujan,”ungkapnya.

 

Berdasarkan analisis dinamika Atmosfer, terdapat peluang hujan pada bulan September dan Oktober ini, terutama pada wilayah Bali bagian tengah dan selatan dengan frekuensi dan intesitas ringan hingga sedang. Hal tersebut dikarenakan faktor lokal yang dominan berpengaruh, dalam artian  banyak perairan membuat pengaruh angin darat dan angin laut sangat dominan disana.

 

Terkait Peta Kerapatan Petir berdasarkan rekaman data alat Lightning Detector yang terpasang di stasiun Geofisika Sanglah tahun 2009-2017, tercatat daerah dengan kerawanan petir tertinggi di terjadi di Bali bagian Tengah. Yaitu di Kecamatan Selemadeg, kecamatan Pupuan, kecamatan Baturiti dan kecamatan Pekutatan. Untuk aktifitas kegempaan pada bulan Agustus hingga Desember 2018 di wilayah Bali dan sekitarnya, terdapat kejadian-kejadian yang signifikan terutama di Lombok yang merusak terutama untuk daerah Lombok utara dan Lombok timur. Hal itu dikuti gempabumi susulan dengan kekuatan yang fluktuatif. “Total keseluruhan gempabumi susulan dari tanggal 29 Juli hingga 12 September 2018, tercatat 2060 kejadian gempa bumi yang bisa dianalisis. Gempa bumi Lombok merupakan suatu rangkaian gempabumi yang terjadi pada satu kesatuan sistem busur belakang (Back Arc Sistem) dengan mekanisme sesar naik dan kedalaman gempa yang dangkal,”pungkasnya. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!