Asammoha Sampajanna

posbali.id

GWA Suputra

APAKAH yang dimaksud dengan asammoha sampajanna ? Menurut Bhikkhu Sri Pannavaro Thera, asammoha sampajanna adalah “Pengertian yang lengkap, bebas dari kegelapan batin, bebas dari moha”. Apakah yang dimaksud ini? Kalau kita mempunyai niat baik, sathaka sampajanna, dari segala arah dicek dengan baik, dan niat itu memungkinkan untuk dicapai, dan berhasil. Pada waktu kita mencapai niat itu, kemudian kita berhasil, kalau kita menginginkan Asammoha sampajanna untuk meningkatkan kualitas mental kita agar naik ke level yang tinggi, kita tidak boleh punya perasaan atau pengertian bahwa: “Saya sudah melakukan tujuan yang baik dan sudah berhasil”. Tidak boleh sama sekali. “Saya sudah menolong dia, saya sudah berkhotbah dan selesai, saya sudah membuat orang lain puas, saya sudah menyelesaikan kewajiban”.

Mengapa? Lebih jauh Bhikkhu Sri Pannavaro Thera mengatakan, karena ada ‘aku yang sesungguhnya’ yang melakukan, yang merasakan keberhasilan itu. Padahal tidak ada ‘aku yang sesungguhnya’ itu. Kalau kita tanya, Bhante, ini siapa yang memberikan Dhammaclass? Saya mengatakan: ‘Saya, aku’. Itu kok boleh, Bhante? Itu supaya kita berbicara tidak bingung. Ini tas siapa? Ini tas saya, bukan tas anda. Tetapi pengertian saya sendiri ke dalam, harus dimengerti bahwa tidak ada aku yang benar-benar memiliki tas ini, tidak ada aku yang memberi khotbah yang sudah selesai dan membuat anda puas. Mengapa kok tidak ada? Sebab, khotbah ini bisa terjadi karena banyak macam sebab! Misalnya: ada lampu/penerangan.

Ada kita, kalau tidak ada kita, saya mau berkhotbah kepada siapa. Ada bahan, ada kehendak untuk berkhotbah, ada yang dikhotbahi. Jadi seperti ada orang sakit, ada kehendak untuk mengobati, dan ada obat, obatnya lalu diberikan kepada yang sakit. Yang sakit merasa senang, sembuh. Kalau ditanya: “Siapa yang menolong dia, yang memberikan obat?” “Saya”. Itu boleh. Tetapi pengertian untuk kemajuan batin harus dimengerti bahwa tidak ada ‘saya’ yang menolong mengambil obat. Mengapa? Kalau tidak ada yang sakit, siapa yang mau diambili obat? Kalau ada yang sakit, tidak ada obat, apa yang akan diberikan? Kalau saya sudah mengatakan, saya sudah menolong dia, mengatakan begitu dan merasa begitu menang, itu namanya menang-menangan, mendiskreditkan, menganggap orang sakit dan obat itu tidak ada. Yang ada, aku sudah berbuat menolong. Lalu, yang ada itu apa, Bhante? Yang ada adalah proses, proses yang baik, mata melihat itu, “Kok ia sakit”, timbul kehendak, melihat obat ada di sini, tangannya bergerak, lalu obat ini diangkat, diberikan pada dia. Dianya lalu senyumsenyum, senang, ya sudah. Hanya begitu kita —proses. Itu namanya proses yang baik. Aku yang berbuat baik itu tidak ada. Ini hanya salah satu faktor. Untuk bercakapcakap, membuat orang agar tidak bingung, boleh kita mengatakan “Dia yang memberikan obat”. Tetapi untuk kepentingan batin, ini tidak boleh. ‘Aku’ yang sejati itu yang mana? Pikirannya, jasmaninya, perasaannya, hidungnya, matanya?

Sering ada orang bertanya, kita melihat ini sebagai apa? Bentuk ini apa? Rumah. Siapa yang diantara kita melihat ini lalu bilang: “Oh, ini nagasari”. Tidak ada. Tetapi coba kita tunjukkan, mana yang intinya rumah, mana yang disebut rumah yang sejati, yang betul-betul rumah? Kalau yang lain-lain dipisah-pisahkan, intinya rumah yang mana? Tidak ada. Coba kita tunjuk yang mana? Ini lantai, ini dinding, ini plafon, itu atap. Mana yang disebut rumah? Kalau bentuk ini dirobohkan, ditumpuk-tumpukkan di sini, tidak dibuang, tidak diambil, utuh tapi diroboh dan ditumpuk-tumpukkan di sini; rumahnya hilang. Orang melihat apa?

Faktor-faktor berkumpul menjadi satu, cocok, lalu jadi, dan itu tidak kekal. Kalau kita bisa punya pengertian seperti begitu, batin kita akan naik menuju ke level yang tertinggi. Kalau hanya menjaga niat tidak negatif, tidak jahat, baik dari segala arah, punya cita-cita yang masuk akal, tidak muluk-muluk, dan berusaha mencapai sukses, dan bahagia, itu biasa. Dan itu sudah cukup untuk hidup bermasyarakat. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!