Aksi Aliansi Jurnalis Mataram Lawan Kekerasan TNI AU di Medan

posbali.id

Panglima TNI Didesak Tindak Tegas Pelaku Penganiaya Jurnalis

 

Fahrul Mustofa

PULUHAN jurnalis berbagai media di Kota Mataram, Jumat (19/8), melakukan aksi solidaritas. Mereka mengecam tindakan TNI AU yang menganiaya masyarakat serta dua awak media Array Argus dari Harian Tribun Medan dan Andri Syafrin Purba dari MNC TV yang sedang meliput aksi Forum Masyarakat Sari Rejo (Formas) Sumatera Utara (Sumut) pada Senin (15/8) kemarin.

Para wartawan yang tergabung dalan organisasi jurnalis, seperti, IJTI, AJI Mataram, kemudian IPJI, Forum Wartawan Parlemen, dan Komunitas Media Online (Komen), berjalan kaki mengantarkan karangan bunga ke kantor  Pangkalan Udara (Lanud) Mataram di Rembiga, Kota Mataram.

Mereka bergantian berorasi, kemudian meletakkan karangan buka serta poster-poster berisi kecaman di depan kantor milik TNI AU tersebut. Selain itu, para jurnalis pun meletakkan kartu ID Card mereka masing-masing di depan Komandan Lanud Rembiga, Kolonel Pnb Bambang Gunarto.

“Kami sangat berduka, sampai hari ini masih banyak aparat yang belum memahami UU Pers. Ketidakpahaman aparat TNI AU inilah yang menyebabkan dua rekan kami menjadi korban penganiayaan. Kami minta Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo turun tangan mendindak tegas pelaku penganiaya para wartawan itu,” tegas Ketua IJTI NTB, Herman Zuhdi dalam orasinya, kemarin.

Dengan membawa poster bertuliskan kritikan Stop Kekerasan Jurnalis, Aparat Pelindung, Kami Cari Berita Bukan Cari Gara-Gara, Rakyat Bukan Penindas, Lunturnya Demokrasi oleh TNI AU, dan tolak kekerasan terhadap jurnalis.

Mereka berharap jurnalis yang bekerja dilindungi oleh UU tidak lagi menjadi sasaran kekerasan oleh oknum aparat keamanan.

Senada Herman. Sekretaris IJTI NTB, Riyadi Sulhi mengatakan, penganiayaan yang dilakukan AURI kepada jurnalis bukan yang pertama kali. Maka, pelaku kali ini harus ditindak dan mendapat sanksi hukum yang bisa membuat efek jera kepada yang lain serta memberikan rasa adil kepada para korban.

“Kami menolak upaya damai yang menggiring kasus ini ditutup begitu saja. Apa yang mereka lakukan sudah sangat tidak manusiawi, tidak bisa diselesaikan hanya dengan permintaan maaf. Ini soal idealisme dan prinsip kita sebagai jurnalis. Kita harus bersatu melawan kekuatan-kekuatan penuh kepentingan ini,” kata Jurnalis yang merupakan kontributor SCTV itu.

Sementara itu, Ketua AJI Mataram, Fitri Rahmati menegaskan, penganiayaan yang terjadi di Medan, merupakan kesalahan besar. Sebab, hal tersebut tidak mencerminkan sosok TNI yang dekat dengan rakyat.

Menurutnya, ulah oknum TNI yang memukul, selanjutnya merampas kamera para jurnalis itu merupakan bagian yang tidak menghargai kebebasan pers. “Wartawan adalah penyambung lidah rakyat. Sementara TNI berperan menjaga kedaulatan rakyat sebagai sektor keamanan NKRI. Tapi, di Medan, tugas TNI itu berubah sebagai algojo yang jelas tidak mencerminkan tugas TNI,” ujar Fitri yang merupakan kontributor Kompas TV tersebut.

Usai melakukan orasi. Puluhan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Lawan Kekerasan Mataram itu melakukan aksi teatrikal bentuk dari ketidak berdayaan jurnalis dalam menjalankan profesinya. Diikat, diseret, dipukul menggambarkan keangkuhan oknum TNI AU.

“Kami berharap ada sanksi tegas dari atasannya dan sudah seharusnya kasus ini dibawa keranah hukum,” tandas Korlap Muzakkir.

Terpisah, Kolonel Pnb Bambang Gunarto meminta maaf atas insiden yang dilakukan korpsnya terhadap kerja jurnalis di Medan, beberapa hari lalu itu. Untuk itu, ia turut mendorong proses hukum terhadap para pelaku penganiaya jurnalis untuk ditegakkan dengan seadil-adilnya.

“Ke depan, kami berharap tidak ada lagi penganiayaan terhadap kerja-kerja jurnalis di lapangan. Saya meminta maaf, dan saya pastikan di Mataram, tidak akan ada lagi hal-hal seperti itu terhadap para jurnalis,” tegas Bambang Gunarto.

Ia mengaku, sudah langsung mengirimkan selebaran yang berisikan pernyatan sikap Aliansi Jurnalis Lawan Kekerasan Mataram ke Mabes TNI di Jakarta. “Kami mendukung aksi kawankawan jurnalis di Mataram. Karena ini, adalah bagian aksi solidaritas atas koreksi terhadap jajaran kami,” tandas Kolonel Pnb Bambang Gunarto. ***

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!