Ajaran Buddha dalam Kakawin Sutasoma

posbali.id

GWA Suputra

AJARAN Buddha dalam Kakawin Sutasoma adalah kasih sayang, tanpa kekerasan.  Kakawin ini dibuat oleh seorang pujangga bernama Mpu Tantular yang diperkirakan berperan sebagai sastrawan pada masa kerajaan Majapahit. Kakawin Sutasoma tersebut terdiri atas 148 pupuh atau bab, dan 1209 bait.

Pada awalnya, diceritakan Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Iswara (dewa Siwa) turun ke bumi sebagai raja-raja pada zaman yuga. Kemudian pada zaman kali, Sri Jinapati (pemimpin para Buddha Jina) turun untuk menghancurkan kejahatan di dunia yang dibawa oleh Kala. Dalam cerita kakawin, kala diwujudkan dalam tokoh bernama raja Sudanda atau raja Jayantaka. Buddha menjelma menjadi seorang manusia bernama pangeran Sutasoma. Pangeran Sutasoma merupakan seorang calon raja kerajaan Hastina yang didambakan oleh kedua orang tua dan rakyatnya untuk menjadi raja di kemudian hari dan menyucikan dunia dari kejahatan yang dibawa oleh Kala. Sutasoma merupakan Sang Buddha sendiri yang telah diterangi, walaupun dalam wujud manusia. Sutasoma juga merupakan bentuk yang dipilih Sang Buddha untuk menempatkan diri di bumi.

Pada awalnya pangeran Sutasoma ingin menyepi ke hutan untuk menjadi pertapa dan menolak menjadi raja. Setelah ia menempuh berbagai macam perjalanan, akhirnya ia memutuskan untuk kembali menjadi raja demi kebaikan dunia. Selanjutnya ia menikah dengan seorang putri bernama Candrawati, sepupu perempuannya yang sebenarnya merupakan Locana, sang permaisuri Sutasoma di surga.

Sutasoma memiliki banyak raja pengikut yang setia dan sakti. Mereka semua selalu melindungi raja Sutasoma dan kerajaan Hastina dengan sepenuh hati. Ketika raja Sudanda, sang Kala beserta bala tentara raksasanya datang, pasukan Sutasoma rela bertempur hingga mereka semua tewas di medan pertempuran karena dikalahkan oleh kekuatan raja Sudanda yang telah berwujud Kala. Walau demikian, Sutasoma yang datang ke medan pertempuran untuk menyerahkan diri kepada sang raja Sudanda membangkitkan kembali pasukan raja-raja yang telah tewas tersebut karena kesucian hatinya. Dengan kesaktiannya, Sutasoma mampu menundukkan raja Sudanda dan membuat raja Sudanda menjadi seorang pandita mulia.

Karena raja Sudanda memiliki janji terhadap dewa raksasa Bhatara Kala untuk menyerahkan Sutasoma sebagai mangsanya, raja Sudanda meminta Sutasoma untuk memutuskan jalan terbaik demi kebaikan dirinya. Sutasoma yang mulia akhirnya meminta raja Sudanda untuk membawanya ke dewa Bhatara Kala untuk dijadikan persembahan. Bhatara Kala sangat senang ketika Sutasoma telah ada di hadapannya dan segera menyantapnya. Namun ia tidak bisa memakan Sutasoma dan terus-menerus memuntahkan Sutasoma.  Mengapa Sutasoma tak bisa ditelan? Karena Sutasoma memiliki air Amerta (kesucian dan kemuliaan) di dalam hatinya. Itulah sebabnya, Bhatara Kala pun takluk dihadapan Sutasoma. Sejak itu, raksasa berjanji untuk tidak melakukan kejahatan lagi di dunia manusia.

Dalam kakawin diperlihatkan hubungan antara Buddhisme dan Siwaisme. Hubungan tersebut terkandung dalam setiap ajaran yang diberikan Sutasoma kepada murid-muridnya. Kedua-duanya merupakan jalan menuju kelepasan terakhir sambil meleburkan diri dalam Yang Mutlak yang wujudnya adalah “Kekosongan dan Kehampaan”. Upaya dan cara untuk mencapai tujuan tersebut berbeda-beda, namun tujuannya tetaplah satu dan sama: Buddha dan Siwa adalah satu dan sama.

Kakawin ini merupakan hasil karya sastra religius berlatar aliran Buddha Mahayana. Banyak penekanan mengenai cita-cita Boddhisatwa, yaitu seorang yang bertekad ingin menjadi Buddha untuk mencapai kesejahteraan semua makhluk hidup. Selain itu, terdapat pula penekanan terhadap ciri Buddhistisnya, yaitu musuh tidak harus dihadapi dengan cara menghancurkannya, tetapi harus diubah menjadi teman yang baik dan meninggalkan kejahatan. Hal ini digambarkan dalam penaklukan Nagaraja, Gajawaktra, dan macan betina oleh pangeran Sutasoma sehingga pada akhirnya kesemuanya dapat saling berbagi dalam pencapaian kebebasan sempurna. (*)

Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!