2,6 Km Taman Tanggul Alur Tukad Mati Legian dapatkan penataan Pemkab Badung

posbali.id
MANGUPURA, POS BALI – Sepanjang 2,6 Kilo meter alur Tukad Mati Legian, dipastikan akan mendapatkan penataan taman dari DLHK kabupaten Badung. Hal tersebut dilakukan seiring dengan keberlanjutan proyek penanggulangan banjir Tukad Mati, yang salah satunya menyentuh wilayah Legian. Perbedanya, jika penanganan banjir itu dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Bali Penida. Namun khusus untuk penataan taman, akan dibackup oleh Pemkab Badung melalui DLHK. “Ini adalah kolaborasi antara DLHK, Lurah Legian dan LPM, kami hanya menata hal yang menjadi kewenangan kami, dalam hal ini adalah taman. Kita akan buat taman di bantaran sungai, dengan berisi beberapa pot berisi bunga dengan patung,”ujar Kadis LHK kabupaten Badung, Putu Eka Merthawan ditemui Minggu (3/2) saat meninjau alur Tukad Mati Legian.

 

Dengan upaya tersebut, pihaknya berharap hal itu bisa membuat kondisi Tukad Mati yang sering dikeluhkan karena masalah banjir, kotor dan bau, menjadi tukad rekreasi yang asri. Seiring penataan alur Tukad Mati dan pengerukan sedimentasi yang dilakukan Balai. Penataan taman tersebut diakuinya akan diajukan dalam APBD perubahan tahun 2019, dengan anggaran senilai Rp 800 juta. Dimana bulan Oktober menjadi target pengerjaan penataan taman yang dimaksud. “Kita akan membuat taman Tabe Buya Legian, ikon pariwisata legian kedepan. Jadi kita akan tanam sekitar 500 pohon tabe buya, di kanan dan kiri tanggul. Warna bunganya itu ping dan putih, selain itu kita akan lengkapi dengan beberapa pot, lightning dan patung,”jelasnya.

 

Diakuinya penanaman 500 pohon tabe buya tersebut merupakan pengganti pohon trembesi yang ada di sepanjang bantaran alur Tukad Mati Legian. Dengan penggantian tersebut, tentu akan membuat kawasan akan lebih tertata. Sebab pohon tabe buya diketahui memiliki bunga yang indah, batang yang terkendali, struktur akar yang tidak merusak, tidak cepat tinggi, tidak liar, mudah ditata dan yang terpenting daunnya jarang jatuh. Sehingga hal itu tidak akan membuat kotor sungai, yang notabene wajib dijaga kebersihannya. Apalagi tabe buya diketahuinya mampu berbunga 2 kali dalam setahun dalam iklim panas, yaitu Pebruari dan September. “Jadi nanti akan dibuatkan buis sebagai tempat tanaman di pinggir bantaran sungai. Memang trembesi pohonnya bagus untuk penghisap polutan, tapi pohon itu lebih bagus ditempatkan di areal yang cakupannya lebih luas.
Tapi kalau untuk bantaran kali, tentu akarnya bisa merusak. Karena itulah kita rekomendasikan tabe buya, dan saya yakin dalam waktu satu setengah tahun kondisinya akan bagus,”paparnya.

 

Pihaknya juga mengaku akan menempatkan tong sampah, yang akan dibuat menyesuaikan demgan estetika yang ada. Dalam pengerjaannya nanti, pihaknya juga mengaku akan menelusuri pipa yang masih mengarah ke alur Tukad Mati. Jika masih diketemukan pihak yang membuang limbah sembarangan, ia mengaku akan mertindak tegas oknum terkait.

 

Lurah Legian Made Madia Surya Natha berterinakasih dan mengapresiasi penataan taman yang akan dilakukan DLHK di sepanjang pinggiran alur Tukad Mati Legian, atas perintah Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta. Pihaknya juga menyampaikan bahwa Bali Sungai Bali Penida juga mengucapkan terimakasih atas peran serta Pemkab Badung tersebut. “Tukad mati ini adalah wajahnya kami, view utama kami. Kalau ditempat lain, Tukad Mati itu ada dipunggung wilayah mereka. Karena itulah masyarakat kami ingin wajah kelurahan Legian ini ditata,”ujar Madia.

 

Seiring penataan tersebut, pihaknya berharap alur Tukad Mati Legian kedepan bisa dibuat menjadi obyek wisata baru. Minimal bagi orang lokal, yang jenuh akan pemandangan pantai. Bila memungkinkan, ia berharap kedepan alur Tukad Mati Legian menjadi wahana destinasi baru, baik untuk memancing, olahraga air dan sebagainya. Namun hal itu perlu kesadaran semua pihak, untuk menjadikan tukad mati legian benar-benar terjaga. Baik terjaga dari sampah, limbah dan kondisi air yang memang kurang stabil. “Kita harap kedepan ini bisa dibuatkan semacam penahan air, sehingga kondisi air tetap stabil. Kami juga usul bahwa taman ini nanti bisa diberi nama Taman Giri Tabe Buya,”harapnya.

 

Sementara Ketua LPM Legian, Ketut Sudana berharap seiring dengan penataan wajah Tukad Mati Legian, hal itu akan membuat suasana Tukad Mati Legian menggeliat. Pihaknya menceritakan penataan Tukad Mati yang dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Bali Penida sempat di stop. Hal itu dikarenakan janji pihak Balai terkait peremajaan pohon tidak bisa dilaksanakan. Namun untungnya hal itu langsung diambil alih Pemkab Badung, sehingga masalah tersebut tidak berlarut. “Kita harapkan penataan ini bisa dilakukan dengan baik, dilengkapi dengan nama taman. Dengan bersihnya kondisi sungai, cantiknya tatanan taman, hijaunya sepadan sungai, maka ini akan membuat daya tarik bagi Tukad Mati. Tentu kita harap ini diimbangi dengan maintenance (pemeliharaan), karena tentu biayanya ini cukup besar,”terang Sudana.

 

Kedepan ia berharap Tukad Mati Legian bisa menjadi ikon pariwisata baru, baik itu dilengkapi air mancur, laser, free wifi dan tempat duduk yang representatif. Dengan menjadi ikon pariwisata, tentu kebersihan, kenyamanan akan senantiasa terjaga dengan baik. Untuk melengkapi kawasan tersebut dengan air mancur dan laser, pihaknya akan mencoba mengkomunikasikan hal itu dengan stake holder yang ada di Legian. Dengan harapan pihak terkait bisa membantu merealisasikan hal itu melalui dana CSR. 023
Print Friendly, PDF & Email
posbali.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: PosBali.id Content is protected!